Senin, 20 Agustus 2012

Penelitian Tindakan Kelas


PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS
MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN MUSIK INSTRUMENTAL
PADA SISWA KELAS VB SEMESTER II
SD IT BIRRUL WAALIDAIN, TAHUN PELAJARAN 2011/ 2012

Dasnah1
  1. Mahasiswa Sekolah Guru Indonesia Angkatan III
Email: anadasnah@yahoo.co.id

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hasil peningkatan kemampuan menulis puisi bebas pada siswa kelas VB Semester II SD IT Birrul Waalidain, Tahun Pelajaran 2011/2012 setelah menerapkan media pembelajaran berupa musik intrumental. Data observasi siswa dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa dan guru. Hasil menulis puisi bebas siswa, dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan media pembelajaran musik instrumental dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa kelas VB Semester II SD IT Birrul Waalidain. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan dari siklus I hingga siklus II. Hasil yang diperoleh dari Siklus I yakni 68,12 % dan siklus II mencapai 80, 23%. Peningkatan kemampuan menulis puisi bebas siswa dapat terlihat, baik dalam proses belajar-mengajar maupun melalui hasil karya menulis puisi bebas oleh masing-masing siswa. Pada tahap evaluasi, hasil tes siswa yang telah dievaluasi oleh observer, teman sejawat, dan peneliti menunjukkan adanya peningkatan bagi proses pengajaran menulis puisi bebas melalui media pembelajaran musil instrumental pada siswa kelas VB semester II SD IT Birrul Waalidain.

Kata Kunci: Keterampilan menulis, puisi bebas, media pembelajaran musik instrumental, karya siswa.

ABSTRACT
This study aims to describe the increasing in the ability to write free poem  of students Semester II of SDIT Birrul Waalidain at VB class after applying instrumental music medium. Student observation data were analyzed qualitatively using the observation sheet activeness of students and teachers. The results of the students free poem, were analyzed quantitatively using descriptive analysis. Based on the results of data analysis and discussion, it can be concluded that the application of instrumental music can improve students' ability to write free poem. This is indicated by an increase from cycle I to cycle II. The results obtained from the cycle I is 68.12% and cycle II is 80, 23%. Increased ability to write free poem can be seen, both in teaching and learning process and through the work of writing free poem by each student. In the evaluation phase, the test results of students who have been evaluated by the observers, peers and the researchers showed an increase for the teaching of writing free poem through the instrumental music medium in the semester II students of SD IT BirrulWaalidain.

Keywords: writing skills, free poem, instrumental music medium, students' work.
BAB I
PENDAHULUAN
           
Kemampuan bersastra dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia memiliki porsi tertentu, sama halnya dengan kemampuan berbahasa. Dikemukakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) bahwa menulis khususnya kemampuan bersastra, yakni diharapkan dapat mengekspresikan karya sastra yang diminati (puisi, prosa, dan drama) dalam bentuk sastra tulis yang kreatif serta dapat menulis kritik dan esai sastra berdasarkan ragam sastra yang telah dibaca (Depdiknas, 2006: 2). Pembelajaran puisi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar siswa dapat menyampaikan ide, gagasan, perasaan, dan pikiran dalam bentuk karya sastra yang disebut puisi. Tidak mudah memberi batasan pada sebuah puisi sebab para ahli sastra pun masih saja memberikan batasan yang berbeda-beda tentang karya sastra berupa puisi. Puisi memang memiliki tipografi yang sangat berbeda dengan karya sastra lain, seperti prosa. Nurgiyantoro (2005: 321) mengatakan bahwa puisi terbentuk oleh dua aspek yang saling berkaitan, yaitu sesuatu yang ingin diekspresikan dan sarana pengekspresian, yakni unsur isi dan bentuk. Unsur isi mencakup aspek gagasan, ide, emosi, atau lazim disebut tema, makna, sedang unsur bentuk misalnya berupa berbagai aspek kebahasaan dan tipografinya.
Utami (dalam Kartini, 2011: 2) mengemukakan bahwa salah satu materi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang dianggap sulit oleh siswa adalah puisi, mulai dari menganalisa puisi, memaknai puisi, membaca puisi, hingga menulis puisi. Sementara itu,  Nurgiyantoro (2005: 312) berpendapat bahwa puisi adalah genre sastra yang amat memperhatikan pemilihan aspek kebahasaan sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa puisi adalah bahasa yang ‘tersaring’ penggunaannya.
Mengingat puisi yang sarat akan makna konotasi, maka sangat wajar jika siswa mengalami kesulitan dalam menulis puisi. Hasil yang belum maksimal dalam mengajarkan puisi ditemui di kelas VB SD IT Birrul Waalidain. Dalam sebuah proses KBM, guru telah mengajar dengan menggunakan media pembelajaran dengan menerapkan media musik instrumental, namun hasil yang didapatkan sangat jauh dari harapan. Tak satu pun siswa yang menulis puisi sesuai dengan struktur puisi yang telah dijelaskan. Karya siswa memang terlihat seperti puisi sebab disusun seperti puisi, namun unsur-unsur seperti gaya bahasa, diksi, bunyi, pengimajian, dan irama atau persajakan tidak tampak. Berikut salah satu contoh puisi yang dimaksud peneliti.

Terciprat Air

Malam-malam saat pulang les
Aku dijemput oleh ojek
Aku pulang dengan hati riang dan senang
Malam itu sedang hujan
Tiba-tiba mobil sedan melewati ojeg
Dan aku terciprat becek yang tadi
Hati riang dan senang
Sekarang menjadi marah (Karya Saffa A.E.)

 Kondisi yang dipaparkan peneliti di atas diduga karena guru kurang maksimal dalam menerapkan media dan siswa juga kurang memahami arti puisi yang sesungguhnya. Berdasarkan data yang diperoleh, nilai menulis puisi bebas siswa kelas VB pra tindakan rata-rata adalah 33.71. Kesulitan yang dialami oleh siswa, sebagaimana terlihat dari nilai tersebut menuntut guru untuk memaksimalkan metode yang pernah dipakai sebelumnya, yakni menulis puisi dengan menerapkan media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan salah satu langkah yang tepat untuk membangkitkan dan merangsang pikiran. Hal  ini sejalan dengan Kosasih (2007: 8) yang berpendapat bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa, sehingga mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa. Salah satu media yang tepat untuk merangsang dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa adalah dengan mendengarkan musik instrumental. Musik memiliki kekuatan untuk mempertajam pikiran, meningkatkan kreativitas dan menyehatkan tubuh. Musik (klasik) terbukti dapat meningkatkan fungsi otak dan intelektual manusia secara optimal. Campbell kemudian mengambil contoh karya Mozart, Sonata in D major K 488 yang diyakininya mempunyai efek stimulasi yang paling baik bagi bayi.Sedangkan menurut Dra. Louise, M.M.Psi., psikolog sekaligus terapis musik dari Present Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta, sesungguhnya bukan hanya musik Mozart yang dapat digunakan. Semua musik berirama tenang dan mengalun lembut memberi efek yang baik bagi janin, bayi dan anak-anak. Lebih sering disebut efek Mozart sebab musik-musik gubahan Mozart-lah yang pertama kali di teliti.
Musik instrumental merupakan salah satu media audio yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran puisi bebas. Khususnya bagi siswa yang sulit untuk menuangkan pikiran, ide, gagasan, dan perasaannya. Kekuatan yang dimiliki oleh musik dalam membangkitkan semangat belajar dan kreativitas otak kanan sangat kuat sebagaimana yang diungkapkan Hanslick (dalam Heri W, 2005: 119) bahwa  tujuan musik adalah menggugah perasaan kita dan mengisi hati kita dengan berbagai emosi, seperti cinta dan kegembiraan. Campbell (2001) dalam bukunya Efek Mozart mengatakan musik romantik (Schubert, Schuman, Chopin, dan Tchaikovsky) dapat digunakan untuk meningkatkan kasih sayang dan simpati. Menulis puisi tentu melibatkan perasaan dari penulis. Oleh karena itu diharapkan agar kemampuan menulis puisi bebas siswa Kelas VB SD  IT Birrul Waalidain dapat ditingkatkan dengan menggunakan media musik instrumental. 
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah Media Musik Instrumental dapat Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Bebas Siswa Kelas VB SD IT Birrul Waalidain Kabupaten Bogor?”Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan penggunaan media pembelajaran musik instrumental dalam meningkatkan kemampuan belajar dalam proses KBM. Lebih khusus lagi adalah untuk mengetahui apakah melalui penggunaan media pembelajaran musik instrumental dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa kelas VB SD IT Birrul Waalidain tahun pelajaran 2012/ 2013. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat teoretik dan manfaat praktis. Manfaat teoretiknya adalah hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan teori penulisan puisi bebas melalui media pembelajaran audio musik instrumental. Sedangkan manfaat praktisnya antara lain: bagi siswa diharapkan media pembelajaran audio musik instrumental mampu meningkatkan hasil belajar siswa, bagi guru penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru dalam memanfaatkan media pembelajaran. Sedangkan bagi peneliti dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai pendukung pemikiran tentang penelitian pendidikan untuk mengembangkan media pembelajaran. 
BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini tergolong jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari siklus-siklus tindakan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi untuk setiap siklusnya. Penelitian tindakan merupakan salah strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang “dicoba sambil jalan” dalam mendeteksi dan memecahkan masalah pembelajaran.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan siklus I adalah peneliti merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar observasi serta membahas materi pelajaran dan puisi bebas yang akan digunakan. Kemudian pada tahap pelaksanaan dan observasi, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi kepada siswa, menggali pemahaman siswa tentang puisi bebas. Setelah itu, siswa menulis puisi bebas sambil diiringi musik instrumental sedangkan peneliti mengamati setiap kegiatan siswa dan guru melalui lembar observasi. Pada tahap evaluasi siklus I, peneliti memeriksa hasil tes menulis puisi bebas siswa yang dikerjakan, baik secara berkelompok maupun individu dan mengevaluasi perilaku yang ditunjukkan siswa.
Hasil evaluasi siklus I menentukan kelanjutan penelitian pada siklus selanjutnya. Apabila  hasil belajar menulis puisi bebas siswa pada siklus I belum menunjukkan adanya peningkatan dan hasil yang maksimal, akan dilakukan siklus II. Kekurangan yang ada pada siklus I akan dibenahi dan dicarikan strategi belajar yang lebih tepat dan hasil yang sudah baik akan ditingkatkan pada siklus II. Hasil analisis siklus I inilah yang akan menjadi tolok ukur peneliti dan guru untuk merencanakan siklus II sehingga hasil yang akan dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan yang diharapkan dan lebih baik daripada siklus sebelumnya.
Pada tahap perencanaan siklus II, peneliti dan guru merancang serta memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dinilai masih perlu disempurnakan dengan menerapkan strategi yang lebih variatif. Pada tahap pelaksanaan dan observasi siklus II Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi kepada siswa. Setelah itu, Siswa menulis puisi bebas melalui media pembelajaran musik instrumental sedangkan peneliti mengamati kegiatan siswa dan guru melalui lembar observasi. Pada tahap evaluasi ini, peneliti dan guru kolaborator memeriksa hasil tes menulis puisi bebas yang dikerjakan secara individu serta mengevaluasi perilaku yang dilakukan oleh siswa.
Penelitian ini dilaksanakan di SD IT Birrul Waalidain, Bogor dengan subjek penelitian ini adalah siswa kelas VB tahun pelajaran 2011/ 2012 dengan jumlah 22 siswa. Objek penelitian ini adalah penulisan puisi bebas dengan memperhatikan tema, diksi, gaya bahasa, dan pengimajian.
Penelitian ini menggunakan instrumen berupa nontes dan tes. Instrumen penelitian nontes dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Lembar observasi dijadikan acuan oleh peneliti untuk mengetahui kegiatan, aktivitas siswa, dan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung. Lembar observasi yang digunakan oleh peneliti berisi hal-hal yang akan dinilai secara terstruktur. Dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan dan menyimpan data sebagai sumber yang berkaitan dengan penelitian ini, yakni berupa foto.
Instrumen penelitian berupa tes unjuk kerja, dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung untuk mengetahui keselarasan antara rancangan dan pelaksanaan tindakan, kelemahan dan kelebihan yang ada, serta mengetahui seberapa besar peningkatan yang tercapai setelah menggunakan media pembelajaran musik instrumen pada pembelajaran menulis puisi bebas siswa.
            Teknik tes yang dirancang oleh peneliti dan guru mata pelajaran akan menghasilkan data kuantitatif peningkatan keterampilan siswa dalam menulis puisi bebas. Sedangkan teknik observasi terhadap siswa dan guru akan menghasilkan data kualitatif mengenai situasi belajar mengajar pada saat pelaksanaan PTK. Data penelitian ini kemudian dianalisa secara kualitatif dan kuantitatif. Analisa data kualitatif disajikan dengan deskripsi hasil observasi siswa dan guru, sedangkan analisa data kuantitatif menggunakan analisis deskriptif yakni membuat daftar skor hasil tes menulis puisi bebas siswa. Hasil tes yang diperoleh diperiksa berdasarkan rubrik penulisan puisi bebas yang telah disusun oleh peneliti. Skor hasil menulis puisi bebas siswa dikategorisasikan menggunakan penentuan patokan dengan penghitungan persentase untuk skala lima.
Tabel 1. Penentuan Patokan dengan Penghitungan Persentase untuk Skala Lima

No.
Interval Persentase Tingkat Penguasaan

Nilai Ubah Skala lima
Keterangan
0-4
E-A
1.
2.
3.
4.
5.
85% - 100 %
75% - 84 %
60% - 74%
40% - 59%
0 –  39 %
4
3
2
1
0
A
B
C
D
E
Baik Sekali
Baik
Cukup
Kurang
Gagal

Sumber: Nurgiyantoro(1988: 363) (dikutip dari Kartini, 2011)

Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini yaitu apabila terjadi peningkatan 80% keterampilan menulis puisi bebas siswa pada siswa kelas VB yang ditandai dengan adanya peningkatan skor yang diperoleh siswa pada hasil tes menulis puisi bebas melalui media pembelajaran musik instrumental dengan KKM 70.




















HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian meliputi data tes dan non tes yang diperoleh dari siklus I dan Siklus II. Hasil tes siklus I dan siklus II adalah hasil tes menulis puisi bebas setelah mengaplikasikan media pembelajaran musik instrumental. Hasil tes menulis puisi bebas siswa disajikan dalam bentuk data kuantitatif berupa tabel, sedangkan hasil observasi disajikan dalam bentuk deskripsi data kualitatif yang dipaparkan dalam bentuk deskripsi hasil.
Hasil Penelitian Siklus 1
            Deskripsi proses dalam siklus I meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan dan observasi tindakan, evaluasi tindakan, dan refleksi tindakan. Perencanaan tindakan pada siklus I ini adalah membuat persiapan untuk pembelajaran menulis puisi bebas dalam bentuk rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh guru, peneliti, dan siswa. Kegiatan yang dilakukan peneliti dan guru yaitu merancang RPP dan lembar observasi serta membahas materi pelajaran dan puisi bebas. Kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran ini adalah dengan mengikuti intruksi RPP pada pertemuan I, yakni dengan memahamkan teori tentang puisi bebas, khususnya memperkenalkan makna konotasi dan denotasi, menentukan unsur-unsur puisi anak, dan membandingkan dua puisi. Pada pertemuan pertama ini, siswa belum direncanakan untuk menulis puisi bebas melalui musik instrumental. Siswa hanya diperkenalkan teori beserta contoh-contoh puisi anak sambil memperdengarkan musik instrumental. Pada tahap ini, peneliti dan guru secara kolaboratif melakukan kegiatan sebagai berikut:
a.      Mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi oleh siswa dalam menulis puisi bebas.
b.      Menyusun rancangan tindakan dan skenario pembelajaran puisi bebas dengan menggunakan media pembelajaran musik instrumental: (1) peneliti dan guru mendiskusikan teknik menulis puisi melalui media pembelajaran musik instrumental untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa; (2) siswa mendengarkan beberapa rekaman puisi bebas yang ditulis oleh anak SD yang seumuran dengan objek yang akan diteliti (siswa kelas VB); (3) siswa memahami dan menganalisis unsur-unsur pembangun puisi; (4) siswa melengkapi puisi rumpang; (5) siswa menyusun puisi bebas yang telah diacak secara berkelompok; (6) siswa menyusun puisi secara berelompok berdasarkan tema yang tela disediakan; (7) siswa menulis puisi bebas berdasarkan unsur-unsur yang telah ditentukan dengan mengacu pada rubrik penilaian yang telah disusun oleh guru.
            Siklus I dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam. Setelah itu, guru melihat daftar hadir siswa, baru kemudian mengecek kembali siswa yang tidak hadir dengan cara menanyakannya kepada siswa. Guru memberikan apersepsi kepada siswa dengan cara memperdengarkan rekaman puisi anak yang diiringi dengan musik instrumental. Setelah itu guru memberikan motivasi kepada siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran agar siswa lebih terarah dalam mengikuti proses KBM yang berlangsung. Selanjutnya siswa duduk sesuai dengan kelompok masing-masing. Manajemen kelas di sekolah ini menerapkan siswa duduk secara berkelompok, sehingga guru tidak perlu lagi membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil. Selanjutnya guru menyampaikan materi dan tugas-tugas yang akan diselesaikan.
            Kemudian, siswa diminta untuk kembali mendengarkan pembacaan puisi dan alunan musik instrumental. Siswa dibagikan worksheet per individu dalam lingkup per kelompok, yakni melengkapi puisi rumpang berdasarkan puisi yang telah diperdengarkan. Salah seorang siswa dari masing- masing kelompok membacakan hasil puisi utuh yang telah dicatat. Siswa diinstruksikan untuk menentukan unsur-unsur intrinsik yang terdapat pada puisi tersebut. Siswa mampu mengikuti alur kegiatan belajar mengajar pada tahap eksplorasi ini. Semestinya, guru hanya memutarkan rekaman puisi sebanyak dua kali, namun karena siswa yang kurang berkonsentrasi hingga hampir semua kelompok tidak mendengar jelas puisi yang diperdengarkan, guru menambahkan sebanyak empat kali. Hal ini tentu dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti, speaker yang kurang kencang, beberapa siswa tidak fokus dan tidak memahami instruksi awal dari guru. Kegiatan ini mengambil waktu lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya.
Setelah melengkapi form puisi yang telah dibagikan, salah seorang perwakilan kelompok, satu per satu membacakan hasil isiannya. Kemudian guru memperbaiki apabila ada jawaban yang keliru. Hampir seluruh siswa mendapatkan hasil di bawah KKM. Namun, pada dasarnya, kegiatan pada bagian eksplorasi ini hanyalah untuk memperkenalkan sebuah puisi dan meningkatkan daya fokus siswa terhadap materi.
            Kegiatan selanjutnya adalah elaborasi, guru merencanakan kegiatan: (1) siswa dibagikan potongan kertas yang berisi larik puisi secara berkelompok sesuai bait puisi; (2) siswa membacakan puisi yang terdapat pada potongan kertas secara berkelompok sesuai larik dalam bait puisi. Guru kemudian menampilkan satu contoh puisi hasil karangan siswa Birrul Waalidain  pada slide power point dan satu lagi contoh puisi yang telah dipilih. Siswa diminta berdiskusi untuk membandingkan antara puisi karangan siswa Birrul dengan puisi yang ada pada potongan kertas. Hasil diskusi itu disampaikan oleh seorang siswa dari perwakilan kelompok. Kegiatan ini pada dasarnya bertujuan untuk membedakan atau membandingkan antara dua puisi. Puisi mana yang mengandung nilai estetis dan yang belum mengandung nilai estetis.
Berdasarkan pemantauan guru, pertemuan pertama ini belum mencapai hasil yang ditentukan. Namun, pemahaman awal tentang puisi bebas dan hal-hal yang terkait, seperti unsur-unsur puisi, kata konotasi, dan lain sebagainya, sudah dipahami oleh siswa melalui kegiatan konfirmasi, yakni dengan cara bertanya-jawab. Mereka pun sudah mampu membedakan puisi yang mengandung nilai estetis dan yang tidak estetis. Guru menutup kegiatan belajar mengajar dengan menyimpulkan materi dan mengakhiri pembelajaran dengan cara menginstruksikan siswa untuk mencari 5 kata bermakna konotasi dan menuliskan motivasi pada kertas yang dibagikan guru untuk disampaikan pada pertemuan selanjutnya dan terakhir mengucapkan salam.
Data hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel 2. Data menunjukkan bahwa siswa yang mendapat skor di atas KKM, ≥ 70 dengan kategori tuntas sebanyak 10 siswa atau 45,45 % dan siswa yang mendapat skor ≤ 70 dengan kategori tidak tuntas sebanyak 12 siswa   atau 54, 54 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya 10 orang yang mencapai KKM sekolah.





Tabel 2. Perolehan Nilai Menulis Puisi Bebas Siklus I

No.
Kategori
Skor
Frekuensi
Bobot Skor
Persentase
Ketuntasan Kelas
Nilai rata-rata kelas
1.
2.
Tuntas
Tidak Tuntas
70
≤70
10
12
816,14
682,78
45,45%
54,54%
แตก = 1498,88
22

Jumlah
22
1498,88
100%
68,13

            Data non tes dalam penelitian ini adalah lembar observasi siswa dan guru. Observasi yang dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk mengetahui perilaku siswa selama proses KBM berlangsung, yakni menulis puisi bebas melalui media pembelajaran musik instrumental. Aspek yang diamati terkait dengan perilaku atau aktivitas yang dilakukan oleh siswa dan hal-hal yang dilakukan oleh guru selama mengikuti proses pembelajaran. Aspek yang menjadi sasaran observasi siswa antara lain: motivasi siswa, respon siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru, interaksi siswa dengan sumber/ media belajar, kemampuan siswa mengikuti alur belajar. Aspek yang menjadi sasaran observasi guru adalah kemampuan menggali pengetahuan awal atau memotivasi siswa, pemaparan secara umum tentang materi ajar dan prosedur  kegiatan yang harus dilakukan siswa, keterkaitan materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari, keterampilan guru dalam memanfaatkan media dan memanipulasinya, RPP sesuai rencana, cara guru mengarahkan dan mendorong siswa untuk bertanya, memberi penguatan materi dan evaluasi pembelajaran.
            Dari lembar observasi aktivitas siswa dan guru pada siklus I terlihat bahwa tidak ada respon dari siswa berupa pertanyaan tentang masalah yang disajikan oleh guru, siswa sangat apresiatif dalam interaksi dengan media pemelajaran yang ditampilkan oleh guru, sebanyak 21 dari 22 yang dijadikan sampel terlibat aktif dalam KBM. Aktivitas yang dilakukan guru pada saat pelajaran berlangsung adalah sebagai berikut: guru menggali pengetahuan awal serta memotivasi siswa dengan cara memperdengarkan pembacaan puisi anak melalui rekaman sambil diiringi musik instrumental; guru memberikan penjelasan umum tentang materi maupun prosedur kegiatan; guru memberikan keterkaitan materi dengan kehidupan dan lingkungan serta memberikan contoh yang tepat; proses pembelajaran dilaksanakan sesuai strategi  pembelajaran yang direncanakan; guru memberikan stimulan dengan sistem umpan balik dalam memberikan dorongan dan arahan; guru menyimpulkan dan mereview materi; guru tidak memberi remedial atau tugas rumah sebagai penguatan; guru melakukan evaluasi pembelajaran dengan cara memberikan daftar pertanyaan di kertas.
            Pada tahap siklus I pertemuan 1 dan 2, siswa belum menunjukkan kepahaman penuh terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru. Beberapa siswa masih kesulitan dalam menuangkan pikiran, perasaan ataupun idenya dalam sebuah puisi. Ketidakmampuan siswa dalam menuangkan idenya, sedikit-banyak dikarenakan oleh adanya siswa yang kurang paham tentang unsur-unsur puisi. Bahkan sulit untuk memulai menuliskan puisi, sehingga ada kecenderungan dari sebagian besar siswa untuk meniru atau menjiplak ungkapan pertama dari temannya. Banyak siswa yang menulis dengan kata yang sama pada bagian awal puisi. Selain itu, temanya pun sangat dipengaruhi oleh teman yang ada di samping atau di depannya.
            Pencapaian nilai rata-rata yang ditunjukkan pada tabel 1. cukup membuktikan bahwa media musik instrumental dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa. Namun melihat hasil yang belum maksimal, penulis  merasa perlu melanjutkan ke siklus II agar target yang diharapkan dapat tercapai. Pada siklus II, materi slide perlu diulang, ditambahkan dan dimodifikasi agar siswa lebih variatif dalam membuat puisi. Rubrik penilaian pun akan direvisi, yakni dengan menambahkan poin ‘orisinal’ untuk mencegah penjiplakan puisi.
Hasil Penelitian Siklus II
            Perencanaan pembelajaran siklus II dirancang untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran pada siklus I. Kegiatan yang sudah mencapai target maksimal berusaha akan dipertahankan. Pada siklus II diharapkan pembelajar menuliskan puisi bebas dengan memperhatikan unsur-unsur puisi yang telah disampaikan, seperti tema, diksi, bunyi (gaya bahasa, irama, pengimajian),  dan orisinal. Media dan sumber belajar harus lebih variatif dan indikator yang disusun pun harus lebih membangun karakter siswa dari segi kreativitas. Siklus II dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan.
            Pertemuan pertama diawali dengan salam, presensi siswa dan menertibkan siswa. Guru melanjutkan dengan memberikan apersepsi kepada siswa, yakni dengan memperdengarkan musik instrumental sambil membacakan puisi karangan siswa pada siklus I. Selain itu, guru memberikan motivasi dengan cara memberikan apresiasi kepada siswa terkait dengan puisi yang telah dibuat pada siklus I. Guru melanjutkan dengan memberikan reward berupa bintang kepada siswa yang duduk tenang. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, menjelaskan materi tentang cara melengkapi puisi rumpang serta cara menyunting puisi teman.
            Siswa dibagikan worksheet yakni melengkapi puisi rumpang yang dibagikan oleh guru dengan memperhatikan tema, pengimajian, gaya bahasa, dan bunyi. Saat proses ini berlangsung, guru berkeliling untuk mengecek pekerjaan siswa dan memberikan arahan bagi siswa yang kurang memahami instruksi. Setelah itu, siswa saling bertukar pekerjaan kemudian menyunting hasil puisi yang dikerjakan oleh teman. Salah seorang siswa membacakan hasil suntingannya di depan teman-temannya lalu ditanggapi oleh siswa lainnya. Kegiatan akhir ditutup dengan menyimpulkan materi, menyampaikan materi untuk pertemuan selanjutnya dan terakhir mengucapkan salam.
            Pertemuan kedua diawali dengan ucapan salam, presensi siswa dan menertibkan siswa. Guru kemudian memberikan apersepsi terhadap salah satu hasil karya siswa serta memberikan motivasi dan apresiasi kepada siswa yang telah menuliskan puisi rumpang pada pertemuan sebelumnya. Setelah itu, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, kemudian kembali menampilkan materi melalui slide tentang langkah-langkah menulis puisi bebas. Siswa akhirnya dibagi ke dalam empat kelompok (sesuai manajemen kelas). 
            Salah seorang siswa dari perwakilan kelompok maju untuk memilih gulungan kertas yang berisi tema puisi yang akan disusun secara berkelompok. Masing-masing kelompok berlomba menyusun potongan puisi secara acak yang telah disediakan oleh guru. Guru berkeliling mengecek pekerjaan siswa. Setelah itu, salah seorang membacakan puisi yang telah disusun oleh kelompok masing-masing. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan siswa dalam menganalisis bahasa yang tepat dalam merangkai puisi, serta melatih kekompakan siswa, juga mengajarkan untuk disiplin dalam memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh guru. Kemampuan berbicara siswa pun diharapkan dapat tersalurkan, yakni melalui pembacaan puisi secara berkelompok. Guru memberikan jawaban yang benar kepada masing-masing kelompok dan siswa pun mengoreksi hasil pekerjaannya secara berkelompok.
            Siswa dibagikan worksheet secara berkelompok, yakni tiap anggota dalam masing-masing kelompok menuliskan perasaannya sebanyak satu larik. Puisi yang dituliskan oleh siswa berdasarkan tema yan dipilih oleh tiap kelompok sesuai pilihan yang disediakan pada lembar worksheet. Setelah itu, salah seorang siswa membacakan hasil puisi yang telah disusun oleh masing-masing kelompok, kelompok lain memberikan komentar atau pun tanggapan terhadap puisi dari kelompok lain. Guru bertanya kepada siswa tentang contoh pengimajian dalam puisi beserta satu contohnnya, selanjutnya guru memberikan penilaian kepada siswa. Pada akhir kegiatan, guru menyimpulkan materi, guru menyampaikan tema pada pertemuan selanjutnya, guru mengakhiri dengan cara membagikan kertas, kemudian siswa menuliskan 1 kendala dalam menuliskan puisi. Setelah itu siswa mengoyak-ngoyak kertasnya dan membuangnya ke tempat sampah. Hal ini dilakukan untuk memberikan motivasi kepada siswa pada akhir pertemuan.
            Pertemuan ketiga diawali salam, presensi siswa dan menertibkan siswa. Selanjutnya guru memberikan apersepsi dengan cara guru menginstruksikan kepada siswa untuk menuliskan satu kata atau kalimat yang mereka ketahui tentang puisi bebas dan unsur-unsurnya di sebuah kertas kecil kemudian menempelkan pada “Pohon Sastra” yang ditempilkan oleh guru di papan tulis. Guru memperdengarkan musik instrumental sambil membacakan sebuah puisi yang ditulis oleh siswa pada siklus 2, karya Danya Nur Ridwan dengan judul “Ibu Guruku” . Pemberian motivasi dilakukan dengan cara guru memberikan reward kepada siswa yang merespon intruksi guru. Kemudian, Guru menyampaikan tujuan pembelajaran melalui media slide power point. Guru menampilkan materi tentang pengertian puisi bebas, unsur-unsur puisi, dan diksi. Hal ini dilakukan untuk mengingatkan siswa akan materi yang telah didaptaknnya sambil memberikan contoh pada siswa. Siswa dibagi 4 kelompok sesuai pertemuan sebelumnya.
            Siswa menyelesaikan worksheet yang dibagikan secara berkelompok terkait materi yang telah dijelaskan oleh guru (selama 7 menit). Masing-masing kelompok bertukar pekerjaan dan mengoreksi salah-benar dipandu oleh guru dan memberi nilai pada hasil pekerjaan tersebut. Siswa diinstruksikan untuk duduk tenang dan mendengarkan musik instrumental sambil memejamkan mata dan latihan pernafasan (relaksasi) dan dituntun oleh guru untuk membuka mata batin mereka dengan cara menggambarkan apa yang terlihat dan terdengar. Siswa diberikan imaji berupa hal-hal yang terkait dengan kehidupan mereka (cita-cita, lingkungan, dll.). Siswa diarahkan untuk menuliskan imaji yang telah tergambarkan selama proses relaksasi dalam bentuk puisi dengan memperhatikan unsur- unsur puisi dan diksi.
            Satu hingga dua orang siswa membacakan puisinya diiringi dengan musik instrumental. Siswa lain mendengarkan dan memberikan tanggapan berupa komentar, saran, kritik, dan atau pertanyaan. Siswa diberikan apresiasi dengan cara memberikan reward. Guru malakukan konfirmasi dengan menanyakan kembali materi sesuai worksheet yang telah dikerjakan. Guru memberikan penilaian kepada siswa.  Guru mengakhiri kegiatan dengan cara menyimpulkan materi/ mereview. Selanjutnya, guru menyampaikan tema materi pada pertemuan selanjutnya. Guru menutup pertemuan dengan cara memberikan tepuk 1, 2, dan 5, doa, dan salam.
            Data hasil tes siklus 2 tersaji pada tabel 3. Data ini merupakan data penentu keterampilan menulis puisi bebas siswa. Berdasarkan data hasil tes ini, siswa yang mendapat skor ≥70 dengan kategori tuntas sebanyak 21 siswa atau 95, 5 %  dan siswa yang mendapat skor ≤ 70  dengan kategori tidak tuntas hanya ada 1 orang  atau sebanyak 4,5 %. Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan persentase ketuntasan siswa yang mencapai 95, 5 %, artinya hasil tersebut sudah mencapai kategori sangat baik.

Tabel 3. Hasil Perolehan Nilai Menulis Puisi Bebas Siklus II
No.
Kategori
Skor
Frekuensi
Bobot Skor
Persentase
Ketuntasan Kelas
Nilai rata-rata kelas
1.
2.
Tuntas
Tidak Tuntas
70
≤70
21
1
1705,00
60
95,5%
4,5%
แตก = 1765
    22

Jumlah
22
1765
100%
80,22
           
            Data Nontes pada siklus II ini adalah lembar observasi siswa dan guru. Berdasarkan hasil observasi pada siklus II dapat diketahui bahwa sedikit banyak telah ada perubahan siswa dalam menyerap ilmu dan mengaplikasikannya. Antusiasme siswa dalam mengikuti KBM sangat baik.  Siswa menunjukkan minat dan ketertarikan terhadap sumber dan media pembelajaran, termasuk menanggapi penjelasan guru dan menanyakan hal-hal yang kurang dipahami. Siswa pun dapat mengikuti alur kegiatan dengan baik.
            Aktivitas yang dilakukan guru saat pembelajaran berlangsung di antaranya menyampaikan tujuan pembelajaran di awal pertemuan, lebih banyak memperlihatkan contoh dan memberikan motivasi serta berusaha untuk menggali ketertarikan siswa dalam menulis puisi bebas, memberikan penguatan materi kepada siswa dengan cara mereview dan menyimpulkan, tidak memberi tugas rumah sebagai penguatan atau remedial, memberikan arahan yang mendorong siswa untuk bertanya dengan cara mengulang kembali pernyataan dan memberikan kesempatan untuk bertanya, menunjukkan adanya keterkaitan antara materi ajar dengan kehidupan sehari-hari, melakukan evaluasi dengan cara membagikan potongan kertas berisi puisi yang harus disusun oleh siswa.
            Pada tahap perencanaan guru dan peneliti telah merancang langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan hasil pada siklus I agar lebih meningkatkan lagi kemampuan siswa dalam menulis puisi bebas. Oleh karena itu, peneliti menyusun rencana kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok, menyusun puisi berdasarkan kelompok, melengkapi puisi secara berkelompok, dan aktivitas lain yang dilakukan secara berkelompok. Setiap materi atau pun kegiatan yang dilaksanakan selalu diawali dan diiringi dengan musik instrumental. Setelah itu, pada pertemuan ketiga siswa benar-benar dibimbing secara individu untk menuliskan perasaan, pikiran, gagasan dalam bentuk puisi bebas. Berdasarkan hasil tanya-jawab dengan siswa, bahwa kendala utama dalam menuliskan puisi adalah pemilihan kata yang tepat atau diksi. Oleh karena itu, guru banyak memberikan contoh terkait dengan diksi atau pilihan kata.
Ada beberapa hal yang membuat siswa termotivasi dalam menuliska puisi melalui media pembelajaran musik instrumental:
1.    Guru memberikan pemahaman kepada siswa tentang puisi bebas
2.    Guru memberikan pemahaman tentang unsur-unsur yang terdapat dalam puisi
3.    Siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan belajar yang telah disusun baik bersifat personal maupun secara berkelompok.
4.    Guru membimbing siswa agar terus menulis puisi bebas, meski mereka mengatakan saya tidak bisa, susah, rumit, dan sebagainya.
5.    Guru berkeliling memastikan siswa tetap menulis puisi dengan memperhatikan waktu yang telah ditentukan.
6.    Guru memilih musik instrumen yang mellow agar siswa dapat tersentuh
7.    Guru memberikan motivasi dan berusaha membuka mata batin siswa tentang hal-hal yang ada di sekitarnya.
Pada tahap evaluasi, didapatkan bahwa hasil keterampilan menulis puisi bebas pada siklus II mengalami peningkatan dari siklus I dan telah mencapai nilai rata-rata yang diharapkan.  Pada siklus kedua ini dari 22 siswa yang menjadi sampel, 21 orang atau 80,23% yang berhasil masuk ke dalam kategori tuntas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa  ada peningkatan keterampilan menulis puisi bebas pada siswa yang ditandai dengan peningkatan skor yang diperoleh siswa pada hasil tes menulis puisi bebas siklus I dan siklus II melalui media pembelajaran musik instrumental. Peningkatan kemampuan menulis puisi bebas ini, dapat disebabkan oleh dua faktor, yakni: faktor siswa dan strategi belajar. Hasil tersebut menunjukkan keberhasilan guru dalam menerapkan media pembelajaran musik instrumental. Setelah mengikuti pembelajaran, siswa mampu menulis puisi dengan baik, yakni dengan memperhatikan teknik-teknik penulisan puisi, seperti unsur-unsur puisi. Hal itu terbukti dari meningkatnya keterampilan menulis puisi bebas sesuai dengan rubrik penilaian guru.
Tahap evaluasi yang telah dikumpulkan oleh peneliti bahwa siswa VB SD IT Birrul Waalidain menunjukkan adanya kreativitas dalam menulis puisi bebas. Hasil tes siswa yang telah telah dievaluasi oleh teman sejawat dan peneliti menunjukkan perkembangan yang sangat berarti dibandingkan dengan hasil ketika pra tindakan maupun hasil tes siklus I. Hasil akhir yang diperoleh ini membuktikan adanya keberhasilan dalam menggunakan media pembelajaran musik instrumental.
Hasil lain yang diperoleh adalah timbulnya kepekaan, senang, kreatif, dan merasakan kebermaknaan belajar yang diukur dari sudut pandang peneliti. Adanya siswa yang memilih tema pahlawan, guru, ibu, dan alam menunjukkan bahwa mereka peka dengan apa yang ada di sekelilingnya. Siswa yang menangis tersedu-sedu saat menuangkan idenya, juga membuktikan bahwa mereka memiliki kepekaan. Kreatif terbukti dari kesuksesan mereka dalam menuangkan ide dalam bentuk puisi bebas. Apresiasi yang diberikan oleh guru terhadap puisi-puisi yang dibuat membuat mereka merasa senang.
Pembahasan Hasil Penelitian
            Peningkatan keterampilan menulis puisi bebas dapat dijawab dengan deskripsi data secara kuantitatif untuk mengetahui penigkatan rata-rata keterampilan puisi bebas dari tahap siklus I dan siklus II. Hasil pembelajaran pada siklus I dapat terlihat bahwa keterampilan siswa dalam menulis puisi bebas belum sempurna, kriteria yang diinginkan belum sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan. Persentase hasil menulis puisi bebas siswa pada siklus I hanya mencapai 68,13%, meskipun metode pembelajarannya telah dioptimalkan. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya siswa yang kurang mampu menemukan dan mengeluarkan ide dan memilih kata yang tepat untuk dituliskan dalam bentuk puisi. Siswa banyak meniru apa yang dilihat dari tulisan temannya yang menuliskannya di slide berdasarkan instruksi guru. Tema yang muncul juga terkesan sama dengan tema tulisan teman yang ditiru, yakni ‘Ibu’ dan ‘Sahabat’.
            Setelah pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dengan tema berbeda dari siklus I, terlihat ada kemajuan dari tulisan siswa. Maka, peneliti menyusun kembali rencana pada pertemuan II untuk memahamkan mereka tentang cara menulis puisi bebas dengan memperhatikan diksi dan unsur-unsur puisi. Hasilnya, ada satu kelompok yang tidak menyelesaikan puisi tepat pada waktunya, pemilihan kata yang kurang tepat, target bait puisi pun tidak tercapai, yaitu hanya tiga bait. Kesulitan utama siswa pada umumnya adalah kesulitan dalam memilih diksi. Oleh karena itu, peneliti kembali menyusun strategi untuk pertemuan ketiga agar siswa ketika menulis puisi secara individu dapat menuliskannya sesuai dengan rubrik yang ditentukan. Peneliti pun memilih jenis musik yang slow, yakni jenis musik instrumental Kitaro dan ESQ untuk membangkitkan daya kreasi dan imamjinasi siswa. Hasil yang diperoleh pada siklus II, siswa dapat menuliskan puisi bebas sesuai dengan kriteria yang ditentukan dan mengalami peningkatan dari siklus I. Nilai rata-rata kelas pada siklus II mengalami peningkatan 12,09 poin dibandingkan siklus I. Penerapan musik instrumental dalam menulis puisi bebas juga meningkatkan persentase ketuntasan kelas sebanyak 68,13% pada siklus I menjadi 80,22% pada siklus II (tabel 4).


Tabel 4. Perbandingan hasil tes Siklus I dan Siklus II

No.
Item
Siklus I
Siklus II
Peningkatan
1.
Nilai rata-rata kelas
68,13
80,22
12,09
2.
Persentase ketuntasan kelas
45,45%
95,5%
50,05%

            Pembahasan hasil penelitian ini pada dasarnya ditujukan untuk menemukan jawaban atas permasalahan penelitian, yaitu bagaimana peningkatan keterampilan menulis puisi bebas pada  siswa kelas VB SD IT Birrul Waalidain setelah penerapan musik instrumental. Paparan jawabannya berdasarkan tahapan adalah sebagai berikut:
1.    Penggunaan Media Pembelajaran Musik Instrumental pada tahap perencanaan. Perencanaan tindakan melalui media pembelajaran musik instrumental adalah membuat persiapan untuk pembelajaran menulis puisi bebas yang akan dilakukan oleh guru, peneliti, dan siwa. Materi disajikan dalam bentuk persentasi pada slide power point agar perhatian siswa lebih terarah dan fokus. Kegiatan yang dilakukan peneliti adalah dengan berkonsultasi dengan guru untuk mendapartak rancangan pembelajaran yang sesuai dan tepat. Kegiatan yang dilakukan siswa adalah mengikuti kegiatan dan instruksi pembelajaran, termasuk membuat puisi bebas denga diksi yang tepat.
2.    Perencanaan Media Musik Instrumental pada Tahap Pelaksanaan. Hal yang dilakukan adalah memaksimalkan perencanaan yang telah disusun. Pelaksanaan pembelajaran menulis puisi bebas melalui media pembalejaran musik instrumental meliputi: memahami pengertian puisi bebas, mampu menyebutkan contoh kalimat bermakna konotasi, menyunting puisi teman, mengidentifikasi unsur-unsur yang terdapat pada puisi, mengetahui langkah-langkah menulis puisi bebas, mampu menulis puisi dengan bahasa sendiri dan memperhatikan unsur-unsur puisi serta diksi yang tepat.
3.    Penerapan Media Musik Instrumental pada Tahap Evaluasi. Hasil yang dikumpulkan oleh peneliti bahwa siswa kelas VB SD IT Birrul Waalidain menunjukkan adanya kreativitas dalam menulis puisi bebas. Hasil tes siswa yang telah dievaluasi guru dan peneliti menunjukkan kemajuan bagi proses pengajaran menulis puisi bebas.















































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar