Jumat, 17 Agustus 2012

Nyanyian Nyiur


Oleh: Dasnah
Baru sebulan ini, tiap sore menjelang maghrib, angin berhembus begitu kencang.  Pohon nyiur yang tepat berada di halaman belakang rumah Fadel seakan roboh kena terpaan angin. Mungkin karena sudah masuk musim kemarau hingga angin itu menyisakan kering pada kulit yang tersentuh oleh sang angin. Nyiur itu pun nyaris tumbang oleh angin yang bertandang di musim kemarau ini. Sepertinya pemandangan itu baru saja menyita perhatian Fadel. Matanya tajam menyorot ketinggian nyiur yang hampir saja terhempas. Kenangan lama yang telah terkubur dalam sepertinya terkuak tatkala pandangannya diarahkan pada nyiur yang seakan meronta karena angin. Persis dengan dirinya, pun terlihat merana. Sepertinya karena seorang gadis.
Alur hidup seseorang memang tak bisa direka layaknya kita menyaksikan sebuah sinetron. Pemuda tampan itu dahulunya seorang yang gagah nan energik. Saat ini ia masih semester lima di salah satu perguruan tinggi ternama di Tanah Daeng, Makassar.  Kini, ia amat jauh berbeda. Badannya kurus kerontang, rambutnya tak lagi rapi, tiap tarikan nafasnya bagai menyisakan pilu. Entah kenangan buruk apa yang muncul dari benaknya ketika pandangannya tertuju pada nyiur yang baru saja terkibas oleh angin. Mungkinkah dahulu gadis yang dicintainya sangat suka dengan buah kelapa? Atau ia pernah memanjat pohon kelapa demi sang gadis pujaan hatinya? Ah, lagi-lagi tak ada yang tahu ke mana jiwanya berkelana. Yang pasti dia masih menyisakan rindu amat mendalam.
Hampir sejam ia memandangi nyiur itu. Sisa-sisa air matanya bahkan masih terlihat jelas pada wajahnya. Ia baru saja memulai kerinduan itu. Samar-samar terdengar ia memanggil sebuah nama dengan sangat mesra, “Khansa”. Sepertinya sosok Khansa telah bersemayam dalam ingatannya. Masih menyisakan tanya tiada bertepi. Ada apa dengan gadis bernama Khansa? Begitu cantikkah ia hingga hanya ada satu nama yang ia dendangkan?  Begitu luar biasakah ia di mata Fadel hingga membuatnya tak berdaya seperti saat ini?
***
Adzan magrib telah berkumandang, namun sedikit pun tak membuatnya bergeming. Untung ada sang Ibu yang menuntunnya.
“Sudahlah, ibu tahu apa yang ada dalam pikiranmu?” aneh, sang ibu ibarat sutradara hingga ia seakan tahu segalanya.
“Tapi, Bu” ia berusaha menyela. Isak tangis makin menjadi. Penuh perhatian sang ibu memeluknya. Tangis pun beradu. Lima belas menit, kira-kira selama itu mereka berpelukan penuh kasih.
“Ayo, ambil air wudhu dulu!” Pinta ibunya.
“Iya, Bu!” balasnya dalam isak.
Pemandangan haru pun tercipta. Bukan kali pertama, ia menjadi imam bagi ibunya. Pun bukan hal baru bila dalam shalatnya ia  meneteskan air mata. Tiba-tiba terdengar suara lembut dari sang ibu usai shalat berjamaah.
“Nak, ibu tahu betapa engkau menyayangi Khansa, adikmu” sesaat pemandangan senyap, kemudian mereka mematung. Fadel segera meninggalkan ibunya, masuk ke kamar.
Ternyata gadis yang ia rindukan adalah adiknya. Bukan kekasih pujaan hatinya. Sudah memasuki tahun pertama, Khansa meninggalkan keluarga kecilnya. Namun, isak tangis yang menderu Fadel dan ibunya masih sangat kuat. Seperti apakah sosok Khansa? Entahlah, Fadel tak begitu banyak bercerita tentang adiknya. Hanya saja, acap kali ia melihat gadis berkerudung segitiga dengan bros mungil dipadukan dengan baju hingga selutut, pasti ia menatapnya penuh arti. Matanya pun berkaca-kaca bila ia melihat sosok gadis seperti itu. Khansa, sepertinya sosoknya tak jauh beda dengan gadis yang menyita perhatian Fadel. 
***
Sudah beberapa hari ini ia selalu menyempatkan hadir dalam kajian rutin di masjid kampusnya. Rupanya ia punya cara untuk melupakan kenangan akan adiknya. Ia sangat beruntung, ustadz yang mengisi kajian di kampusnya membahas tentang ‘musibah’. Meski tak tahu pasti, sepertinya kepergian Khansa adiknya adalah musibah paling memilukan baginya. Momen itu amat tepat baginya. Lagi-lagi air mata Fadel menetes. Terisak.
Usai kajian, ia menyempatkan diri menyapa ustadz yang baru saja mengisi tausiah. Dari gelagatnya, ia seperti ingin bertanya. Ternyata benar, ia mengadukan semua kondisinya.  
Rupanya, adiknya meninggal karena tertimpa buah nyiur yang ada di belakang rumahnya. Pantas saja ia begitu pilu saat memandang nyiur di halaman belakang rumahnya. Buah kelapa yang menimpa adiknya tepat mengenai otak kecilnya, bahkan kata dokter pembuluh darahnya pecah tertimpa buah kelapa. Isak tangis makin menjadi tatkala ia bercerita bahwa dirinya yang memanjat pohon nyiur untuk adiknya yang amat ingin makan buah nyiur.
            Kenangan itu sudah setahun berlalu, namun rasa bersalah yang menyusup begitu kuat hingga raganya pun tersiksa.  Sepertinya Sang Pencipta masih begitu menyayanginya. Hatinya yang tergerak mengikuti kajian hingga dipertemukan ustadz yang memberinya pamahaman merupakan tanda bahwa yang mahakuasa masih ingin merangkulnya.
Perlahan, ia mulai melupakan kisah tragis tentang adiknya. Fadel, sepertinya tak butuh setahun untuk menjadi energik. Tak butuh setahun untuk kembali seperti dulu. Akhirnya, nyiur yang acap kali berdendang dengan nyanyian pilu mampu ia tepis ***

Cara Unik Nayla Berkomunikasi


Oleh: Dasnah (SGI III Dompet Dhuafa)

Apa yang terlintas di benak Anda jika aku bertanya tentang arti unik? Apakah Anda akan berkata hwa unik itu ‘berbeda’, ‘lain’ daripada yang lain? Ataukah Anda akan mengatakan unik itu ‘langka’, makanya jarang ditemukan? Ah, ada banyak persepsi yang akan muncul. Namun, aku sedikit ingin berbagi cerita, mungkin saja ada inspirasi yang bisa terpetik tentang bocah yang menurutku unik.
Ingin bercerita tentang satu kisah. Kisah seorang bocah yang kuanggap unik. Entah mengapa, tiba-tiba saja jemari ini ingin menari di atas keyboard laptop butut ini. Mungkin saja, ada kerinduan yang tersemat untuk si bocah. Naila, itu namanya. Ia masih kelas O di PAUD. Biasa dipanggil Nail oleh ayah, bunda, dan kedua kakak perempuannya yang masih duduk di bangku SD. Semua bocah pasti menggemaskan, mungkin hal demikian yang terbayang di benak kita. Namun, agak berbeda dengan Naila, gemas itu mungkin akan hilang seketika bila Anda mencoba mengajaknya senyum, namun tak digubris, melihat ke arahmu saja dia pasti enggan, malah ia akan dengan sangat mudah memalingkan muka tanpa berkata sepatah kata pun. Itulah, Naila. Bagiku dia unik karena susah untuk ditaklukkan. Dia tak seperti bocah kebanyakan, yang bila ditawarkan kue, permen, atau mainan, maka bocah itu akan berlari ke arahmu dan meraih barang yang kau sodorkan itu.
Naila, putri bungsu dari pasangan Amru Asykari dan Nurul Zulaiha. Benar-benar membuatku tertantang untuk mengenalnya. Pernah suatu ketika, aku melihatnya sedang berjalan bersama ayahnya, sengaja kudekati dan hendak mencium pipinya. Tetapi, ia malah menghindar sembari membuang muka dan mengeratkan pegangan pada ayahnya. Susah sekali membuatnya tersenyum, gerutuku. Meski aku menyadari  bahwa aku juga susah tersenyum, yah, bukan karena aku sombong atau cuek. Hanya kurang berlatih saja. Tetapi untuk anak seusia Naila, bukan tak bisa senyum karena kurang berlatih, melainkan masih dalam tahap memilih.
Seperti kataku di awal, dia anak yang unik. Semakin ingin kau berkomunikasi dengannya, maka dia akan semakin menjauh. Tak perlu terburu-buru untuk mengambil hatinya. Pelan tapi pasti. Sikap cuek bebeknya juga yang makin membuatku makin ingin mendekatinya. Awalnya, akan terasa sangat susah bila terus mengajaknya berbicara, sebab tak ada respon darinya. Malah bagai berbicara dengan tembok. Kata bundanya, Naila memang tidak pernah berbicara dengan orang lain selain dengan ayah, bunda, dan pengasuhnya. Bahkan dengan kedua kakak perempuannya pun mungkin jarang. Menurut ilmu psykologi, anak demikian tentu ada gangguan. Namun, bagiku itu adalah sebuah keunikan.
Naila, bagaimana cara menaklukkannya? Buat ia cemburu, merasa tidak diperhatikan, atau merasa dicueki. Mungkin dengan cara itu, ia akan luluh. Sebab semakin ingin didekati, maka akan semakin ia jauh.
Berjalan sebulan baru kusadari cara yang tepat untuk membuatnya dekat adalah membuat ia cemburu. Tanpa sengaja, tak direkayasa, ide itu muncul sendiri secara alamiah. Aku menjadi guru ngaji untuk kedua kakak perempuannya di rumah. Berawal dari hal itulah, Naila mulai berubah.
Mengajar ngaji kedua kakaknya berarti aku memiliki kesempatan lebih banyak juga untuk berinteraksi dengannya. Yah, meski sekadar memanggil namanya atau malah mengajaknya ikutan ngaji.
Awalnya, Naila masih memiliki tingkah yang sama. Tak ada respon bila diajak berbicara. Bundanya pun acap kali mengatakan, “Nail, ditanya sama Bu Guru, tuh”. Ia hanya melirik sejenak, kemudian berlalu. Namun, lama-kelamaan tingkahnya mulai berubah. Tadinya ia tak berani mendekat, malah ia bersembunyi di kamar bila mendengar suaraku dari luar pintu. Perubahannya pelan tapi pasti. Kira-kira kurang lebih dua minggu, ia berani mendekat, bahkan membukakan pintu bila aku memanggil namanya dari balik pintu. Saat kedua kakaknya mengaji pun, ia mulai berani duduk berdampingan denganku. Sesekali, ia melirikku. Namun, aku pura-pura tak melihatnya. Sesekali aku juga sengaja menginstruksikan sesuatu padanya, meski tak berharap banyak bahwa ia akan melakukannya. Namun, ternyata di luar dugaan. Ia mendengarkan instruksiku, tanpa membalasnya dengan jawaban, ya atau tidak.
Aku ingat pernah menanyakan langsung kepadanya tentang sesuatu, “Nail, liat buku iqro kakak tidak?” Tanpa jawaban, ia membongkar tumpukan buku yang sudah tersusun rapi di lemari ruang tamu. Kemudian, dia berlari menuju kamarnya, mungkin ia hendak mencari buku itu di dalam kamarnya, sebab ia tak menemukannya di rak lemari. Ia memang tak menjawab, tetapi ia bisa menangkap informasi lebih dari yang dibayangkan.
Aku juga teringat, saat aku datang lagi untuk mengajari Kamila ngaji (kakak keduanya), dia belum bersiap, tampaknya masih ada sisa kantuk di wajahnya, pun ia belum mengenakan jilbab,  aku bertanya padanya, “Mana Jilbabnya, Kamil?” Tiba-tiba, Naila berlari masuk ke dalam kamarnya kemudian membawa jilbab untuk kakaknya. Karena dia unik, maka cara memberikannya pun berbeda. Ia tak memberikan langsung pada kakaknya, ia malah melemparkan ke arahku.
Aku mulai bisa membaca geraknya. Sebenarnya, ia sudah mulai berkomunikasi. Meski cara yang dilakukannya berbeda. Tak seperti kedua kakaknya yang bila ditanya ini dan itu, maka ia pun akan menjawab ini dan itu. Naila tidak demikian. Butuh proses panjang untuk membuatnya mengangguk.
Satu lagi yang membuatnya tampak berbeda dengan yang lain. Dia punya cara sendiri untuk menerima pesan dari Anda. Salah seorang teman pernah berkata seperti ini padaku, “Wah, mba, kamu hebat bisa akrab dengan Naila.” Ungkapan ini bukan hanya bersumber dari satu atau dua orang, banyak yang berkata seperti itu. Tetapi bagiku hal itu belum cukup selama Naila belum menjawab pertanyaanku dengan “ya” atau “tidak”. Bukan dengan anggukan atau sekadar mengizinkanku menggandeng tangannya. Tetapi, lagi-lagi harus disadari, Naila itu unik. Jangan menyamakannya dengan anak lain yang seusia dengannya. Ia cukup mengangguk bila menerima pesan Anda. Sebaliknya, ia akan menggelengkan kepalanya bila tak setuju dengan Anda.
Bagi sesorang yang belum terlalu dikenalnya, mungkin Naila akan enggan memperlihatkan keunikannya itu. Tetapi, sampaikan saja apa yang ingin kau katakan padanya, sebab ia akan mencerna dan menyimpan dalam memorinya. Bila ia sepaham dengan Anda, kemungkinan besar ia mau mendengarkan Anda.
Perhatikan tulisan yang ada pada gambar di bawah ini…













Sulit dipercaya kalau bocah sepertinya mampu menuliskan kalimat singkat itu. Tentu tak mudah baginya bila harus mengucapkannya langsung. Melalui surat yang ditulisnya, tersirat makna yang sangat dalam. Naila bukan anak yang susah tersenyum, mungkin saja saat menuliskan surat itu, ia tersenyum simpul. Ia hanya belum mampu menerima lingkungan sekitar, entah berapa lama ia akan beradaptasi dan menerima lingkungan. Tentu tak ada yang tahu. Bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui surat saja sudah menandakan ia hanya berada pada tahap memilih. Memilih dengan siapa ia ingin berkomunikasi. Aku memang bukan psikolog yang tahu teori. Aku hanya mengamati dan mempelajari.
Semua itu berawal dari rasa cemburu. Yah, cemburu kalau yang diajak ke mana-mana hanyalah kedua kakaknya, makanya ia pun mencoba menyelipkan dirinya saat aku mengajak kedua kakaknya. Aku memang sengaja tak mengajaknya berkali-kali bila ia sudah membuang mukanya, sebab aku tahu, nanti pun ia akan merasa kesepian dan malah memilih bergabung dengan kami.
Ibarat layangan, semakin kau tarik maka makin kuat pula ia bertahan, namun bila engkau mengendorkan tali layangan itu, tentu akan jatuh dan pada akhirnya bisa kau sentuh. Itulah Naila, memiliki banyak keunikan, tak terkecuali cara berkomunikasi.

Dua Watak Utama Perempuan


Oleh: Dasnah

Islam adalah agama yang syumul (menyeluruh), memuat semua sisi kehidupan masyarakat. Membahas segala bentuk ciptaan-Nya melalui kitab Al-Quran yang diturunkan melalui Rasulullah s.a.w. Salah satu pembahasan dalam Al-Quran tentang makhluk ciptaan-Nya adalah muslimah atau lebih dikenal dengan kata perempuan. Berbicara tentang perempuan, maka akan banyak hal yang akan didapati dan untuk mengupas semua itu tidak akan cukup, jika hanya menggunakan waktu sejam, sehari, seminggu, atau bahkan sebulan. Dalam Al-Quran dijelaskan tentang segala hal yang mesti menjadi tuntutan bagi perempuan. Termasuk di dalamnya bagaimana berinteraksi, bagaimana semestinya dalam bersikap, berpakaian, dan bahkan bagaimana semestinya perlakuan terhadap perempuan. Suatu hal yang menarik untuk dikupas dalam perbincangan, mengapa perempuan menjadi suatu momok yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Salah satunya adalah karena keindahan perempuan. Namun, untuk memasuki pembahasan tersebut lagi-lagi membutuhkan waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu, penulis membatasi pemabahasan pada tulisan ini, yakni Mengenal Dua Watak Utama Perempuan Menuju Introspeksi.

Dalam kehidupan sehari-hari bukan bukan suatu yang tak asing lagi tatkala kita melirik aktivitas perempuan. Penuh dengan gaya, tren, dan modis. Intinya tidak jauh dari bau-bau dandan alias gaya. Ternyata, Terkait dengan watak perempuan, ternyata telah dijelaskan dalam Al-Quran bahwa ada dua sifat utama dari perempuan. Dalam Al-Quran surah Az-Zukhruf ayat (18):

“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan sebagai perhiasan sedang ia tidak mampu memberi alasan yang tegas dan jelas dalam pertengkaran(Q.S. Az-Zukhruf: 18)

Ayat di atas menjelaskan tentang dua watak utama kaum perempuan. Pertama pada dasaranya perempuan ‘suka berdandan’. Hal itu jelas diungkapkan dalam terjemahan di atas sebagai perhiasan. Kedua, perempuan itu suka membantah, sebagaimana terdapat pada kalimat terakhir dan jelas dalam pertengkaran. Jadi pada dasarnya perempuan memiliki fitrah sebagaimana terdapat dalam ayat di atas. Penulis tidak iseng-iseng menafsirkan ayat di atas. Seorang ustadz pernah menjelaskan kepada penulis bahwa pada dasarnya sifat perempuan terdapat dalam alquran. Salah satu surah dalam alquran yah, Az-Zukhruf: 18.
Wajar bila Anda melihat perbedaan mencolok antara laki-laki dengan perempuan bila berjalan beriringan. Pada umumnya laki-laki akan berpenampilan sederhana dan tidak neko-neko, sebaliknya perempuan jauh lebih mementingkan penampilan dibandingkan apa pun.
Telah jelas bahwa ada sifat yang melekat pada diri perempuan yang secara alamiah tak dapat dinafikkan. Kedua watak tersebut bukan sesuatu yang mesti dibiarkan. Sebaliknya, kedua watak tersebut mesti diminimalisir, bahkan kalau perlu di-delete dalam karakter, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu. Karena ternyata inti dari seruan itu adalah Allah menyeru untuk tidak menampakkannya.
Realitas telah membenarkan ketetapan Allah yang sudah ada jauh sebelum kita prediksi bahwa akan ada prediksi seperti ini nantinya. Tidak ada yang dapat memungkiri bahwa perempuan memang suka berdandan. Dan yang paling banyak membantah bila ditegur juga adalah perempuan. Bila hal ini masih menjadi tanda tanya dalam benak, maka boleh kita mengadakan penelitian atau observasi tentang laku dari perempuan ini. Berapa kali dalam sehari ia bercermin, berapa kali dalam sehari ia memoles bedak pada wajahnya, berapa kali ia membetulkan posisi bajunya. Bukan hal yang mustahil hasilnya akan sama dengan yang tertulis dalam Al-Quran bahwa ‘berhias dan membantah’ adalah fitrah perempuan.
Namun demikian, bukan berarti hal ini membuka ruang bagi laki-laki untuk menjadikan dua hal tersebut adalah kelemahan mutlak yang melekat pada perempuan, sebab jika perempuan mampu mengendalikan kedua sifat itu menjadi sesuatu yang tidak berlebihan, maka reward pantas diberikan pada perempuan. Tentunya perintah Allah pun dilaksanakan bukan?  Penulis hanya ingin menekankan bahwa kedua watak itu, bisa saja menjadi boomerang, kalau tak ada pemahaman awal tentang Islam. Dan sebaliknya, bisa saja menjadi senjata kita untuk kondisi tertentu. Yang mesti dilakukan adalah menjadikan kedua watak itu sebagai media introspeksi diri.
Cat: sudah diterbitkan di dakwatuna

Ada Cinta Yang Terselip di Gigi

Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom


Ada cinta yang terselip diantara gigi

Kemarin kulihat ada anak makan es krim, ibunya beli cabe yang dijual ibuku
Kelihatannya maniiis banget, yang netes ditangannya dijilat
Kata mbak yang jual pita disamping, itu warnanya pink
Kuhapus air liur yang tiba-tiba keluar dari mulut,
kalaupun ada duit, mending beli pensil buat belajar nulis

hari ini jualan ibu lumayan, bisa untuk berobat adik nanti sore
separuhnya untuk modal besok,kata ibu
kalau becak bapak banyak penumpang..
bayangan es krim pink tiba-tiba muncul dikepalaku
uuh kugelengkan kepala kuat –kuat
nanti malam makan ga ya?

Di pasar ada razia
Cepat-cepat Ibu membereskan dagangan dan menarik tanganku,adik menangis di gendongannya
Satu-dua biji cabe jatuh, sayang, tapi ibu bilang tak usah diambil, lari terus katanya
Untung bapak ga narik, becaknya rusak
Kemarin ditabrak orang
Hmm kalau sudah begini,
Aku tersenyum membayangkan esok

Hari ini puasa lagi, aku suka
bisa dapat pahala banyak sambil berhemat, begitu kata kak Siti
ini juga bagian selalu inget sama Gusti Allah, supaya di ridhoi setiap langkah kita
setuju! jeritku dalam hati
Aku juga ga mau makan es krim pink hasil korupsi, he he
Aku mau sekolah,
Nanti jadi pahlawan,yang tanpa tanda jasa supaya rendah hati
Makanya Bapak bersikeras nyekolahin kak Siti, sekarang lagi bantuin Ko Ahong ngangkat beras, upahnya buat SPP kak Siti, sudah 9 bulan nunggak
Kayak orang hamil ya, bentar lagi melahirkan tuh
Eh, ada yang teriak maling
Refleks Bapak menghadang copet yang lari
Dompetnya dapat, Bapakku memang hebat!
Tapi kok Ibu menjerit, pembelinya ditinggalin, kata orang Bapak berdarah!
Aku senang sekali, adik juga
Orang yang ditolong Bapak membelikan es Krim pink
Kak Siti pulang cepat
Aku mau dia mencicipi juga, biar ga nangis,jangan-jangan kak Siti di usir lagi dari sekolah
Sepertinya, ada suara nyaring mendekat
ramai sekali, rupanya sebuah mobil putih dengan lampu disko di atasnya
Ada yang di gotong turun
Kok, rasanya Es krim pink tidak manis lagi

Ada cinta yang terselip di gigi
Cinta Bapak yang ingin membelikan es krim pink untukku
Ku lihat Bapak dimasukkan ke tanah
Kata Ibu nanti akan bertemu Bapak di surga, mudah-mudahan tidak lama lagi

Ada cinta yang terselip di gigi
Cinta Bapak, Ibu, Kak Siti, dan adikku
ah, aku jadi malas gosok gigi

Note: Puisi ini merupakan Juara 3 Penulisan Puisi Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2008

MUDAHNYA MEMBUAT MENARIK PEMBELAJARAN IPS DENGAN COOPERATIVE LEARNING

Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom

Pelajaran IPS sangat penting untuk siswa. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Through social subject learners can be directed to an Indonesian citizens of a democratic and responsible and peace loving citizens of the world (KTSP, 2006). Melalui pelajaran IPS, siswa mengenal perannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Tetapi sayangnya, isi pelajaran IPS seringkali tidak konkret, sehingga tidak mudah bagi siswa untuk mengerti materi pembelajaran. Contohnya materi Semangat Kerja di kelas 3. Materi Semangat Kerja memiliki dua kompetensi dasar. Yaitu mengenal jenis-jenis pekerjaan dan memahami pentingnya semangat kerja. Mengenal jenis-jenis pekerjaan mudah dilakukan siswa karena siswa melihat  langsung berbagai profesi yang ada di sekitarnya. Tetapi memaknai semangat kerja seperti pentingnya memiliki pengetahuan lebih dan tetap jujur dalam berwirausaha, telaten berkerja tengah malam sebagai perawat, dan tidak gentar karena panas terik matahari dan gagal panen bagi petani cukup sulit dimengerti. Siswa kelas 3 SD belum pernah memiliki profesi pekerjaan dan merasakan bekerja.
Berbeda dengan pelajaran IPA, cukup menghadirkan alat-alat praktek sederhana, siswa langsung mengerti karena mengalami sendiri proses gejala alam yang terjadi. Contohnya proses terjadinya bunyi. Guru bisa meminta siswa memukul meja atau memetik karet hingga mengeluarkan bunyi. Mulai dari getaran, udara, dan bunyi yang ditimbulkan dapat di lihat dan di rasakan langsung oleh siswa. Oleh karena itu, membuat pelajaran IPS menjadi menarik wajib bagi guru, agar siswa dapat memahami materi pelajaran. Cooperative learning dapat menjadi salah satu alternatifnya.  
Cooperative learning adalah aktivitas belajar kelompok yang diatur sehingga kebergantungan pembelajaran pada struktur sosial pertukaran informasi antar anggota dalam kelompok dan tiap anggota bertanggung jawab untuk kelompoknya dan dirinya sendiri dan dimotivasi untuk meningkatkan pembelajaran lainnya (Carolyn Kessler, 1992). Banyak penelitian menunjukkan keberhasilan metode ini dalam: (a) pencapaian hasil belajar yang lebih tinggi dan produktivitas yang lebih besar, (b) meningkatkan rasa kepedulian, saling mendukung, dan hubungan yang erat, dan (c) meningkatkan kesehatan psikologis, sosial, kompetensi, dan penghargaan terhadap diri sendiri (Slavin,1985).
Jarolimek (1993) mengatakan, diharapkan pendidikan IPS mampu mengembangkan aspek pengetahuan dan pengertian (knowledge & understanding), aspek sikap dan nilai (attitude & value), serta aspek keterampilan (skill) pada diri siswa. Iklim kompetitif dalam cooperative learning antar kelompok membuat siswa berpartisipasi aktif dan berlomba-lomba memenuhi tujuan pembelajaran sesuai arahan guru. Berikut beberapa model pembelajaran cooperative learning yang dapat digunakan untuk mata pelajaran IPS beserta langkah-langkah penerapannya:
1.      Snowball throwing
Snowball throwing adalah model pembelajaran aktif dengan menggunakan bola. Setelah apersepsi, guru membentuk kelompok-kelompok. Kemudian memanggil masing-masing ketua kelompok, dan memberikan penjelasan tentang materi. Masing-masing ketua kelompok kemudian kembali ke kelompoknya dan menjelaskan materi yang telah disampaikan guru. Setelah itu masing-masing siswa diberi satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan tentang materi (dalam satu kelompok tidak boleh ada pertanyaan yang sama), misalnya apa pengertian semangat kerja (berdasarkan penjelasan ketua kelompok). Lalu kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar ke kelompok lain untuk di jawab pertanyaannya. Setelah menjawab, kelompok ini melemparkan bola kertas miliknya kepada kelompok lain, begitu seterusnya. Kelompok yang menjawab dengan benar, berhak mendapatkan skor (tulis di papan tulis). Setelah guru merasa cukup, guru bisa menyimpulkan, memberi tindak lanjut, dan menutup pelajaran.   
2.      Bertukar pasangan
Dalam model ini, siswa dibentuk berpasangan, lalu guru memberikan soal mengenai materi Semangat Kerja untuk dikerjakan bersama. Setelah selesai, siswa bertukar pasangan dan saling bertanya, menjawab dan mengukuhkan jawaban mereka. Temuan baru yang ditemukan di pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.
3.      Make a match
Model pembelajaran make a match menggunakan kartu sebagai alat. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi materi pelajaran. Ada kartu yang berisi soal, ada kartu yang berisi jawaban. Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu. Lalu memikirkan soal atau jawaban dari kartu yang dipegang. Kemudian setiap siswa mencari pasangan yang cocok dengan kartunya, lalu mencocokkan kartu sebelum batas waktu yang diberikan. Dalam kesempatan ini siswa berdiskusi mengenai pertanyaan dan jawaban di dalam kartunya. Setelah satu babak kartu dikumpulkan dan dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Jika masih ada waktu bisa diulangi kembali sesuai kebutuhan.
Masih banyak model cooperative learning yang dapat digunakan untuk membuat pembelajaran IPS menjadi menarik bagi siswa. Dalam metode ini, siswa saling berinteraksi dan bahu-membahu untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran. Sesuai dengan salah satu tugas perkembangan anak usia sekolah (6-12 tahun), yaitu belajar bergaul dan bekerja sama dalam kelompok sebaya  (Havighurst, 1972).
            Selain itu, cooperative learning menggunakan metode scoring, dimana siswa akan berlomba-lomba memenuhi instruksi guru untuk aktif dalam pembelajaran. Dengan menggunakan metode ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya (Slavin, 1995). Kompetisi yang tercipta membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Sebagaimana yang dikatakan Meier (2002), salah satu ciri dari pembelajaran menyenangkan adalah menarik bagi siswa. Sehingga materi pembelajaran IPS yang kurang konkret dapat dimengerti oleh siswa.               

Kamis, 16 Agustus 2012

Santan dan Perempuan Taropo Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom (Relawan Guru SGI DD di Tarepo, NTB)


Entah sejak kapan persisnya, secara turun temurun anak-anak di Desa Taropo, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, NTB keramas dengan menggunakan santan kelapa. Caranya cukup unik. Anak-anak yang biasa mandi secara berjamaah di sungai pertama-tama mengunyah kelapa tua yang biasa tersedia di rumah masing-masing. Setelah halus, kelapa kemudian dimasukkan ke dalam gayung berisi air. Kemudian ramuan ini diaduk dan disiramkan ke kepala secara merata sambil dipijat selayaknya orang menggunakan shampoo. Sebelum dibilas, kepala didiamkan dulu selama kurang lebih 15 menit.
Cara lainnya, kelapa diparut, tidak harus dikunyah. Ada lagi yang membakar terlebih dahulu kelapa tua yang akan digunakan. Setelah itu, kelapa hitam dihaluskan dan dibalurkan ke kepala sambil dipijat. Kepala dibasuh dengan air bersih setelah didiamkan selama kurang lebih 15 menit. Cara special ini menambah manfaat menghitamkan rambut.
Di tengah kencangnya arus kapitalisme, janji-janji menggiurkan iklan shampoo di televisi  tidak mampu menggoyahkan tradisi keramas dengan santan. Bahkan setelah dewasa, secara berkala perempuan-perempuan Taropo tetap mengunakan santan kelapa untuk keramas. Walaupun menggunakan shampoo, keramas rambut tetap ditutup dengan membalurkan  santan kelapa.
Ketika ditanya bagaimana rasanya, dengan riang anak-anak Taropo menjawab: “Rasanya halus, tidak kusut”. Atau: “Enak, rambut jadi lurus dan licin, jadi cantik”. Kepercayaan yang berlaku  dimata para ibu adalah santan kelapa mampu membuat adem kepala dari panasnya matahari dan penatnya berbikir. Shampoo pun diyakini dapat membuat kepala panas dengan bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Santan merupakan solusi yang dapat membuat kepala enteng dan adem. Disamping itu, rambut anak-anak Suku Mbojo yang bertipikal kaku dan lebat ini dapat menjadi lemas dan lembut.
Pada faktanya, menurut para ahli santan kelapa mengandung tanin, minyak alami yang yang dapat meningkatkan kesehatan rambut dan melembabkan kulit kepala. selain itu, tanin juga dapat mengurangi tumbuhnya uban, anti bakteri, dan mengandung Vitamin C yang mampu menghilangkan ketombe.
Beginilah cara perempuan Taropo merawat kecantikan rambutnya. Tradisi terus dipelihara dari waktu ke waktu. kesulitan air bersih di wilayah gunung tidak menjadi penghalang bagi perempuan Taropo untuk tetap memiliki rambut indah, meskipun bau yang ditinggalkan santan agak asam di kepala.