Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Agustus 2012

Mengadu Nasib di Pohon Kinca



Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom
(Relawan Guru SGI DD di Tarepo, NTB)

Pernah dengar Buah Kinca? Di Indonesia Bagian Barat anda mungkin tidak mengenalnya. Tapi di Indonesia Bagian Timur, terutama Dompu NTB, buah ini cukup menjadi favorit. Segarnya yang sepat-sepat asam menjadi penghibur ditengah udara panas siang hari Dompu yang menyengat. Bahkan, di sebuah Desa bernama Taropo, ia menjadi sumber penghidupan bagi seorang anak kelas 6 SD bernama Dian.
Mardianto nama lengkapnya. Orang tuanya adalah seorang petani di ujung selatan paling utara Kabupaten Dompu, NTB. Kehidupan ekonomi yang sulit membuatnya bolak-balik merantau Jakarta-Blora-Dompu. Karena itu, dalam usianya yang masih belia, Dian sudah merasakan kerasnya perjuangan untuk bertahan di suatu tempat. Setahun terakhir, Dian kembali dibawa bapaknya kembali ke Dompu, sementara ibunya bertahan di Ibu Kota menjadi buruh pabrik.
Setiap pagi Dian memulai harinya dengan memanjat pohon Kinca di halaman rumah seorang tokoh Taropo. Buah yang berhasil dipetik kemudian dijual kepada teman-teman sekolah. Dalam satu hari, pendapatan kotor Dian bisa mencapai Rp.20.000,-. Setelah disetorkan kepada si empunya Kinca, Dian bisa mendapat upah kurang lebih Rp.3000, tergantung dari hasil penjualan. Dengan cara inilah Dian bisa jajan untuk dirinya dan adiknya. Tinggal tanpa seorang ibu, Dian sehari-hari juga mengasuh adiknya.
Tidak mudah memanjat Pohon Kinca. Buahnya yang terletak di ujung-ujung dahan cukup sulit untuk diraih. Belum lagi pohonnya tinggi menjulang, dahan pohon hanya dapat dicapai jauh di atas. Dian yang memiliki kecerdasan kinestetik tinggi merupakan satu-satunya anak yang dapat memanjat pohon Kinca. Menolong tetangga mengambil buah kelapa juga menjadi kegiatan sehari-hari Dian meski tidak mendapat upah.
Selayaknya anak-anak Taropo yang lain, Dian sudah sering ikut berangkat ke hutan untuk mencari madu, ikan, udang, dan kepiting. Digigit kalajengking dan bertemu ular adalah hal biasa baginya. Bahkan Dian sudah diwarisi jampi-jampi untuk mengobati gigitan binatang buas dari kakeknya yang telah meninggal. Mencari madu hutan akan dilakukan setiap tiga bulan sekali ketika tiba musimnya. Satu liter madu dihargai Rp.50.000 rupiah. Madu asli dari Gunung Tambora, puncak tertinggi NTB. Karena berburu madu bersama dengan orang dewasa, Dian biasanya tidak mendapat persenan. Hanya dari Buah Kinca lah Dian bisa membeli jajan seperti teman-temannya yang lain.

Note: tulisan ini pernah dimuat di majalah Swara Cinta Dompet Dhuafa edisi  Juni-Juli

Ramadhan Ini, Sekolah Kami Tak Lagi Mati Suri

14 August 2012 11:09 am | Oase - 252 Reads


Sudah hampir empat bulan saya dan teman-teman SGI3 penempatan Dompu, NTB, mencoba mengabdi. Berbagai shock culture telah kami temui dan lewati. Mulai dari bahasa, makanan, tempat tinggal, hingga budaya di masyarakat. Termasuk budaya siswa meliburkan diri dari sekolah pada Bulan Ramadhan. Oleh karena itu, memaintain siswa untuk berangkat ke sekolah pada Bulan Ramadhan menjadi PR utama untuk saya.

Sejak sebelum memasuki bulan ramadhan saya sudah sering mendengar keluhan para guru (sekaligus untuk meyakinkan saya) bahwa pada Bulan Ramadhan tidak ada siswa yang mau berangkat sekolah. Sekolah menjadi mati suri. Peraturan pemerintah yang meliburkan pada H-3 lebaran tetap harus dijalankan. Para guru datang tanpa ada siswa. ketika saya bertanya kenapa bisa begitu, para guru yang meyakinkan saya berkata anak-anak mengikuti siswa MI (sekolah swasta) yang libur pada bulan ramadhan. Selain itu, menurut hasil pengamatan saya seringnya tidak ada kegiatan di sekolah turut menjadi penyebab. Siswa datang ke sekolah, bermain, dan dua jam kemudian datang kepada guru untuk bertanya: “Ibu guru ule kelas dua?” (”Ibu guru pulang kelas dua?”, Bahasa Lombok). Jawaban guru yang biasanya menyatakan “Belum”, akan mendapat tambahan keluhan dari para siswa yang kemudian kembali bermain. Fenomena seperti ini terjadi secara merata, setidaknya di sekolah-sekolah yang saya temui di pelosok.

Saya memutuskan untuk mengadakan pesantren kilat. Mengirim surat pemberitahuan tetap sekolah kepada wali murid gagal dilaksanakan karena awal ramadhan bersambung dengan waktu liburan semester. Alhasil, saya menuliskan pengumuman jadwal masuk sekolah beserta kegiatan yang akan diikuti siswa di setiap papan tulis kelas. Setelah itu, saya kumpulkan dan menjelaskan pengumuman pada siswa yang hanya hadir 50 orang saja dari 144. Sambutan mereka luar biasa. Saat itu juga mereka saya minta pulang untuk membawa tikar dan perlengkapan shalat. Karena akan ada kegiatan wudhu setiap sebelum masuk kelas, kami (saya dan para siswa) menyepakati untuk ke sekolah memakai sandal selama pesantren kilat.

Rangkaian kegiatan pesantren kilat kami mulai dengan shalat dhuha, kemudian dilanjutkan dengan ceramah dari guru agama, kemudian mengaji. Kegiatan mengaji saya bagi ke dalam tiga kelompok. yang pertama kelompok Iqra’, kelompok Al-Quran, dan kelompok khataman. Kelompok khataman terdiri dari siswa-siswa yang sudah lancar membaca Al-Quran dan menargetkan satu kali khatam pada bulan ramadhan ini. Metodenya bergiliran membaca satu ayat sambil duduk melingkar, sementara kelompok yang lain di bimbing oleh para guru. Saya juga menargetkan para siswa hapal surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Al-Kautsar. Metode pembelajaran cooperative learning sangat efektif dalam praktek hapalan surat pendek ini, dimana siswa yang sudah hapal mengajari teman/adik kelas yang belum hapal. Shalat dhuha setiap pagi dengan suara dikeraskan juga sangat membantu siswa kelas rendah untuk cepat menghapal.

Satu minggu pertama, kedatangan siswa terus meningkat hingga mencapai hampir 80 orang. Walaupun demikian, tetapi masih ada yang menyangsikan kedatangan siswa di minggu selanjutnya. Minggu kedua, kedatangan siswa menurun kembali seperti di awal ramadhan. Tetapi saya tetap optimis, karena kedatangan siswa setiap hari fluktuatif, rata-rata sekitar 50 orang, jauh lebih baik daripada sekolah mati suri, he he. Karena di awal minggu ketiga saya harus pergi kota untuk ke diknas dan tidak masuk satu hari, secara mengejutkan keesokan harinya siswa yang datang hanya 17 orang saja. Pada saat ini tentu saja kembali banyak suara-suara pesimis yang muncul terhadap siswa. Padahal saya sudah menitipkan dengan hati-hati kepada para guru agar menjalankan agenda ramadhan seperti biasa saat saya tidak hadir.

Akhirnya, saya putuskan untuk mengumumkan di masjid desa agar wali murid memberangkatkan anak-anaknya ke sekolah sampai pada waktu libur yang telah ditentukan oleh pemerintah. Karena guru yang saya mintai tolong menolak, maka saya menyampaikan pengumuman sendiri di masjid dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sementara wali murid banyak yang tidak berbahasa Indonesia. Para guru di daerah transmigrasi orang Lombok ini pun kebanyakan orang Dompu. Pengumuman ini kurang efektif. Siswa yang datang akhirnya sekitar 20 orang saja.

Rangkaian kegiatan pesantren kilat ini di tutup dengan lomba semarak ramadhan. Tidak tanggung-tanggung, berkerjasama dengan teman SGI3 yang satu kecamatan, saya membuat lomba satu kecamatan untuk SD/MI. Kegiatan sosialisasi yang dilakukan dirapat para kepala sekolah mendapat sambutan positif. Meskipun dalam kenyataannya, hanya 1/3 sekolah saja yang ikut. Penyebabnya beragam, mulai dari pihak sekolah yang tidak datang sewaktu sosialisasi sampai dengan sekolah-sekolah di daerah transmigrasi orang Bali dimana semua siswanya beragama Hindu. Lomba yang diadakan adalah lomba adzan, da’i cilik, tilawah dan saritilawah. Sumber dana untuk hadiah kami sampaikan dengan jujur berasal dari biaya pendaftaran para peserta, yaitu Rp.10000/mata lomba. Sehingga hadiah yang akan didapat menyesuaikan dengan jumlah peserta lomba.

Alhamdulillah, lomba berjalan cukup meriah, para siswaku dengan setia menjadi tuan rumah dan suporter yang baik bagi teman-temannya yang ikut lomba. Sekolah menjadi sangat ramai dengan gema nasyid yang berkumandang sebelum lomba dimulai. Selama tiga hari, kegiatan ini ditutup dengan ceramah dari seorang ustad sahabat kami di Dompu, yang ikhlas memberikan sumbangsih tanpa di bayar. Atas ridho Allah, hadiah yang diterima para pemenang cukup semarak, yaitu alat tulis lengkap: kotak pensil, buku, pena, pensil, penghapus, penggaris, dan peruncing pensil.

Hikmah terbesar yang saya dapatkan adalah komitmen awal yang menjadi kenyataan. Asal ada kegiatan pasti yang konsisten dijalankan di sekolah, para siswa pasti akan masuk sekolah. Dengan cara yang sangat sederhana, Allah mewujudkan mimpi saya, mendobrak realitas budaya siswa meliburkan diri pada Bulan Ramadhan. Dengan pesantren kilat, terbukti sudah, sekolah kami tidak lagi mati suri.

Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom
Relawan Guru SGI3 Dompet Dhuafa

http://fimadani.com/ramadhan-ini-sekolah-kami-tak-lagi-mati-suri/

Jumat, 17 Agustus 2012

Out Bond Seru Versi Sederhana


Oleh: Dasnah SGI III

Sore itu, aku seperti malas melangkahkan kaki menuju surau. Entahlah, tiba-tiba saja kaki ini terasa berat untuk melangkah, ditambah dengan jalanku yang kini tergopoh-gopoh bak nenek tua yang sudah tak sanggup berjalan lagi. Barangkali, akibat berjalan dua belas kilo bersama anak-anakku. Yah, tadi pagi aku bersama dengan seorang guru muda yang energik membawa anak-anak mengenal alam lebih jauh. Tepatnya tafakkur alam melalui Out Bond. Meski Out Bond yang kami lakukan tak seperti konsep out bond sekolah-sekolah elit, namun semangat kami sepertinya melebihi mereka. Bisa dibayangkan, beberapa bocah semestinya tak ikut dalam kegiatan itu (masih kelas 2 SD), namun karena keinginan mereka untuk merasakan perjalanan sepanjang dua belas kilo. Mereka sampai rela kehilangan aktivitas dan lakon pagi yang biasa mereka lakukan, ikut ke ladang bersama orang tua mereka atau turut membantu pekerjaan rumah ibunya.
            The real Out Bond,  bagiku ini adalah out bond yang sesungguhnya. Dulu, sebelum memilih mengabdikan diri untuk masyarakat terpencil. Beberapa kali aku mengikuti out bond dan mendampingi siswa, tak pernah aku merasa seletih sekarang. Sebab segalanya sudah lengkap. Tinggal dijalani, maklum sekolah elit. Namun, nikmat yang kurasa pun sungguh berbeda dengan sekarang.
Kali ini, out bond pertama yang kukonsep dengan amat minimalis, hanya berbekal tekad dan keinginan melihat senyum lebar para siswaku. Aku pun melaksanakannya. Kalau out bond identik dengan spider web, flying fox, meniti tali, tabung bocor, dan berbagai permainan menarik lainnya, namun  kali ini, hal itu amat jauh. Sepanjang perjalanan, anak-anakku kuarahkan untuk mengingat dan mencatat nama benda, tumbuhan, dan ciptaan Allah yang dilaluinya. Sesampainya di lokasi out bond, mereka pun harus menampilkan yel-yel mereka. Berbicara tentang yel-yel, aku punya sebait cerita bersama anak-anakku.
Ah, yel-yel, baru kali ini mereka (anak-anakku) mendengar yel-yel. Dua hari sebelum rencana out bond, mereka kuarahkan untuk membuat yel-yel. Dengan sangat girangnya, aku mengatakan kepada mereka, “nanti, ada pos khusus untuk yel-yel terbaik, tahu yel-yel, kan?” Sontak anak-anakku menjawab, “Tidak, Bu!”
Sedih rasanya melihat mereka dengan wajah bingung, mereka seakan-akan mencoba memahami ‘istilah baru’ yang kulontarkan. Aku lupa, kalau aku sedang tidak berhadapan dengan siswa-siswaku di kota. Aku sedikit pikun kalau anak-anakku, kini, jauh dari teknologi dan informasi. Namun, sedih ini kembali berganti tawa saat kumencoba menjelaskan sembari memberikan contoh. “Owhh…yang itu, namanya yel-yel!” mereka pun serempak menjawab.
Out bond kami benar-benar sederhana, setelah pos yel-yel,  beralih ke pos dua, permainan kotak bom, dan terakhir membawa kelereng dengan sendok di mulut. Usai permainan, siswa diarahkan untuk memungut sampah plastik yang bertebaran di bibir pantai. Setelah itu, bermain air dan santap siang. Terakhir, mengungkap hikmah dan bersiap untuk kembali. Sangat sederhana bukan out bond yang kami gelar?
Bagi anak-anakku, perjalanan dua belas kilo bukan masalah. Meski aku sendiri sudah merasakan perih pada kaki, tetap saja aku melangkah tegak dan tak memperlihatkan keluh pada mereka. Sebab mereka begitu antusias. Saat kutawarkan kepada mereka untuk menaiki tumpangan jikalau sewaktu-waktu ada truk atau mobil open cup yang lalu, mereka malah menolak, dengan lantang mereka menjawab, “Tidak, Bu. Kami tidak mau naik kalau ibu tidak ikut naik”. Terhitung beberapa kali kami mampir mencari buah dari tumbuhan liar yang berjejer di pinggir jalan.
Saat mataku mulai memandangi pohon bidara, buah berbentuk bulat kecil dengan rasa nano-nano yang berjejer di sepanjang jalan yang kami lalui, anak-anakku pun berseru, “Ibu, mau kami ambilkan buah rangga (sebutan khas bidara di Dompu)?” Kaki pun mulai mencari tempat teduh di bawah pohon itu. Mereka berebut mengambilkan untukku. Saat asyik menikmati istirahat yang hanya sejenak, rasa haru menyergap saat terlontar kalimat dari salah seorang anakku, “kami senang sekali, Ibu datang ke sini. Baru kali ini, kami out bond.”
Tanpa terasa perjalanan dua belas kilo pun dapat kami lalui. Haru itu makin bertahta saat kaki mereka mengantarkanku ke depan rumah, padahal rumah anak-anakku berlawanan arah dengan rumah dinas yang kutemapti, kini. Dalam hati kuberbisik pelan, “Out bond sederhana ini bukan yang terakhir, Nak!”

Sinta Si Pedagang Cilik


Oleh: Dasnah (SGI III – Dompet Dhuafa)


Terhitung setengah bulan, Bu Ana tidak menampakkan muka dan mengajar  alif, ba, ta, tsa kepada bocah-bocah Fo’o Rombo. Maklum bulan Ramadhan ini, mereka diliburkan dari kegiatan TPA. Bu Ana berganti tempat ibadah, kini, ia lebih sering menginjakkan kaki di masjid dusun Woja Bawah. Di sana juga banyak anak-anak yang kerap memanggil namanya serta meraih tangannya seraya berkata, “Ibu, sholat di sini, ya?” bahkan mereka kerap berteriak, “Hore, Ibu Ana maina sembeyang!” ‘Hore, Bu Ana, datang ke sini untuk sholat!”  Sesekali, ia medudukkan anak-anak itu, melingkar, kemudian mengajarkan do’a sehari-sehari kepada mereka. Itulah lakon yang ia nikmati, kini. Namun, sudah beberapa hari juga ia terlihat jarang melangkahkan kaki ke masjid itu. Maklumlah, banyak aral. Entah itu karena ia memang berhalangan datang ke masjid karena sedang tak puasa, atau kah karena agenda Ramadhan ini sarat akan kegiatan tambahan hingga ia sering pulang menjelang isya, bolak-balik ke kota.
Kemarin, tiba-tiba saja, ia terlihat bergegas menuju masjid. Sepertinya, ia ingin ke masjid Fo’o Rombo. Beberapa menit kemudian, ia pun pamit pada ayah dan ibu semangnya. “Bu, saya ke masjid atas, dulu, hari ini ada lomba untuk anak-anak!”
Seperti biasa, ia berjalan kaki menuju surau. Masjid masih terlihat sepi, namun dari luar, sudah terdengar seperti ada suara bocah yang sedang belajar ngaji. Samar-samar, ia pun seakan mengenali suara bocah itu. Benar, apa yang ada dalam  pikirannya. Bocah itu, Sinta, salah seorang siswa kelas II di SDN 15 Woja, tempatnya mengabdi. Rupanya, Sinta belajar ngaji bersama kakaknya, Sulaiman. Sepertinya, bocah-bocah itu sangat menikmati bacaan buku iqra-nya, sampai-sampai salam dari Bu Ana tidak mereka dengarkan.
Ah, rupanya masjid masih sepi. Sepertinya tak ada tanda-tanda lomba akan dimulai malam ini, sebagaimana yang dia usulkan kepada pengurus Majlis Ta’lim desa Riwo. Sejenak, ia mulai dalam lamunan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Teriakan seorang bocah yang rupanya merindukannya, tiba-tiba saja membuyarkan pikirannya. Ia pun tersenyum simpul sembari menatap sang bocah. Bocah itu tampak girang melihatnya di masjid Az-zukhruf, setelah setengah bulan tak muncul-muncul. Percakapan singkat pun terjadi antara Bu Ana dengan sang bocah.
“Ibu, dari mana, sih? Kenapa baru datang?” sambil memeluk Bu Ana.
“Ibu, kan, shalat di masjid bawah. Karena ada lomba yang akan diadakan di masjid sini, makanya ibu datang!” terang Bu Ana kepada sang bocah.
“Kata orang, Ibu sudah mau pulang, ya, Bu?” sang bocah kembali bertanya.
“Iya, sayang!” jawabnya singkat.
“Jangan pulang, ya, Bu. Kalau ibu pulang, kami bagaimana?”
Sejenak, ia tampak tertegun mendengar sang bocah berceloteh. Bocah itu memang agak cerewet, tetapi semua yang dikatakannya, benar. Bukan kali pertama ia mendapati bocah itu berkata demikian. Bocah yang menurutnya sangat tegar dan terlalu cepat menangani urusan rumah tangga di usianya yang masih amat dini. Mencuci, memasak, mengambil air, dan menyiapkan seragam sekolahnya sendiri. Semua itu, sudah amat enteng bagi sang bocah. Sinta, ya, bocah yang baru saja membawa pikirannya berkelana sepertinya telah menyita perhatiannya.
Usai percakapan singkat itu, Bu Ana kembali merenung. Ia teringat awal perkenalannya dengan Sinta. Waktu itu, sang bocah tak begitu memberi warna hingga tak mudah untuk mengingatnya. Hanya saja, saat sang bocah berbicara, suaranya menggelegar. Bahkan Bu Ana kerap menutup kuping bila berdekatan dengannya atau menempelkan telunjuk pada bibirnya, kemudian berdesis, “Sssttt…!” pertanda bahwa si bocah diminta untuk memelankan suaranya. Itulah Sinta. Satu lagi yang membuatnya tak bisa lupa dengan Sinta. Pernah suatu ketika, ia mengajarkan iqra kepadanya, namun sang bocah malah balik mengguruinya. Meski apa yang diucapkannya salah, ia tetap kekeh dengan apa yang telah dia pelajari sebelumnya. Perlahan Bu Ana menjelaskan kepadanya, ia pun mulai mengikuti.
Baginya, Sinta adalah bocah yang sangat ulet. Bocah itu pun banyak menorehkan inspirasi kepadanya. Satu di antara sekian inspirasi itu adalah semangatnya dalam berdagang.
Saat sang bocah masih duduk di kelas satu, ia sudah belajar berdagang. Bahkan, ia seperti tak punya hari libur. Sinta, menjajakan sayur dengan menggunakan baskom yang dijunjung di kepalanya, sembari berteriak, “welli, uta mbeca!” ‘beli, sayur!” seperti tak ada sore buat dia, sebab waktunya dipakai untuk berkeliling dusun dengan sayurnya. Sepulang dari menjajakan sayur, sang bocah beralih ke pekerjaannya yang lain. Memasak nasi dan ikan, layaknya ibu rumah tangga, ia juga mengangkat air seperti pekerjaan kakaknya, Sulaiman. Namun, sedikit pun tak tampak lara di wajahnya. Ia menikmati pekerjaannya.
Sama persis saat Bu Ana memandang wajahnya malam ini, seperti tak ada sedih yang menghiasi wajahnya. Rupanya, sang bocah asyik bercerita tentang aktivitasnya. Terkadang ia menutup mulut secara refleks saat keluar kata-kata yang salah. Maklumlah, bocah-bocah di tempatnya masih kurang fasih berbahasa Indonesia, bahkan banyak yang tak bisa berbahasa Indonesia. Senyum simpul Bu Ana pun menambah semangatnya untuk terus berkisah. Tentu kisah tentang dirinya (Sinta) yang sebentar lagi kedatangan ayahnya. Ayah yang selalu dinanti-nantinya setelah sekian lama pergi ke Negara lain untuk merantau.
Kali ini bocah itu berkisah tentang Ayahnya yang akan membawanya pergi ke Malaisya. Penuh semangat, ia menjelaskan kepada Bu Ana. Percakapan pun terjadi di antara mereka.
“Sinta mau ikut ayah?”
“Iya, Bu e, ayah mau bawa saya ke Malaisya.” Terangnya dengan struktur kalimat yang agak kacau.
“Yah, Sinta tidak usah pergi, ya, nanti masjid sepi!” pinta gurunya seakan berat kehilangannya. Meski raut wajah tawa tetap ia perlihatkan.
“Ya, Bu e, saya kasihan sih, sama nenek saya, tidak ada yang bantu masak dan menjual.” Kembali ia melontarkan jawaban yang membuat sang guru ciut.
            Subhanallah, sekecil itu, tetapi sudah berpikir ke arah sana. Belum tentu orang dewasa mengeluarkan kalimat yang demikian. Bu Ana terlihat membatin.
Sinta memang memiliki seorang nenek yang selalu melindunginya. Sang nenek pula yang membiayai kehidupan sehari-hari Sinta. Makan, minum, jajan, pakaian, dan kebutuhan sekolah, semua merek nenek. Mungkin itu yang membuatnya berat meninggalkan neneknya.
Ah, kekaguman sang ibu guru membumbung. Bocah itu memberikan pelajaran berharga untuknya. Ia kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu. Saat Bu Ana baru tiba di sekolah, pas di depan pintu kelasnya. Bocah-bocah sudah ramai mengerumuninya, termasuk Sinta. Sang bocah menegurnya, “Ibu, ibu dari mana, kenapa baru saya lihat?” Hanya senyum yang menjawab pertanyaan sang bocah.
Sesaat, pikirannya berkelana. Perasaan ia tak ke mana-mana. Atau mungkin saja karena ketidakhadirannya hari Senin kemarin. Tapi, ah, perasaan ia pun masuk sekolah. Memang tak lama sebab ia harus ke kota, ada urusan di dinas.
Pikirannya kembali buyar tatkala seorang bocah lagi, menyebut namanya. Bu Ana melirik Sinta. Anting emas yang melekat di kedua telinganya, kembali menyita perhatiannya.
“Wah, Sinta pakai anting baru, ya?”
“Iya, Bu e, hasil tabungan saya Bu.” Lagi-lagi, bocah ini membuatnya sontak.
Sedikit percaya, namun tak bisa diabaikan juga. Ia mulai bertanya seakan tak percaya pada Sinta. Dalam hati, ia berpikir, mana mungkin bocah sepertinya mampu menabung seharga sepasang anting emas. Tetapi, ia kan berdagang tiap hari. Pun sering memperlihatkan uang yang akan ditabungnya kepada sang guru, atau ia kerap bercerita tentang tabungannya yang sudah banyak. Mungkin juga, anting itu hasil tabungannya. Ia berusaha menepis pikiran yang berusaha menyangsikan keuletan sang bocah. Ulet, benar-benar bocah yang ulet dengan segala keceriaannya. Sinta, si pedagang cilik, diam-diam telah menjadi album inspirasi baginya.
Malam itu, kedatangannya di masjid az-zukhruf ternyata memberi pelajaran berharga. Matanya mulai berkaca-kaca, haru kembali bertahta.

Ibu, Kau Pahlawan Nomor Satu


Oleh: Dasnah

Ribuan angan sesaki pikiranku. Entah mana yang akan dilirik oleh sang pengabul do’a. Hari berlalu bagai bui diterjang angin. Terasa singkat, padahal berbulan-bulan telah meninggalkan ibu. Senyum, tawa, dan amarahnya tak bisa terhapus dari benak ini. Baru tahun ini aku jauh dari orang tua. Benar-benar jauh, harus melintasi lautan jika ingin melihat senyumnya lagi. Harus mengawang dengan merpati jika hendak membuatnya mengernyitkan kening, seraya menyebut namaku dengan keras, pertanda amarahnya mulai tampak. Ah, jadi rindu suasana rumah.
Ibu, dia pahlawan nomor satu dalam hidupku. Ibu memang tak terlalu bisa bercanda. Sama sepertiku. Tapi dalam segala hal, ibuku bisa dan terampil. Malah melebihi ayah. Ibuku pandai memperbaiki kabel listrik yang rusak. Bila ada kabel putus, ibu ahlinya. Seperti anak teknik elektro saja.  Pun jago dalam memasak, makanya ibu selalu mencoba resep baru. Dulu saja sempat berpikir memasukkanku di tata boga. Apalagi, ya? Kalau soal jahit-menjahit, ibuku tersohor dengan keahlian itu. Sampai-sampai orang-orang dari lintas kecamatan berdatangan di rumah untuk merasakan hasil jahitan ibu. Hasilnya tak pernah mengecewakan, itu kata orang.
Aku juga sempat ingin mengikuti jejaknya untuk terampil menjahit. Maksudnya sih untuk dijadikan keterampilan eksklusif (khusus untuk suami dan anak-anakku kelak). Tapi, kata ibu, bila aku ingin pandai menjahit, butuh keahlian analitis. Ah, macam peneliti saja, pikirku. Ukuran badan seseorang punya rumus. Ada teknik tersendiri bila ingin menghasilkan jahitan yang sempurna. Wah, repot juga, aku kan tidak suka berhubungan dengan angka. Aku lebih suka menulis. Lebih suka berbicara.
Ibu, dia adalah pahlawan nomor satu dalam hidupku. Masih ada banyak hal yang membuatku kagum padanya. Kreatif, yah, ibuku kreatif. Kain-kain perca bisa disulap jadi barang yang bermanfaat. Bila Anda salah seorang pelanggan jahitan ibu, maka kain sisa Anda takkan terbuang begitu saja. Apalagi bila Anda punya anak kecil. Kain sisa itu akan dibuatkan baju serupa untuk anak kecil Anda. Atau malah akan dibuat dompet imut dari kain perca itu. Maaf, bukan promosi tetapi memang kenyataan. Dulu, aku juga pernah merasakan bagaimana kreatifnya ibu memodifikasi jilbabku yang bolong tak karuan gara-gara tikus. Ibu menempelkan kain yang serupa dan menambahkan dengan variasi lebih menarik dari sebelumnya. Walhasil, jilbab itu menjadi serasi denga bajuku yang kebetulan memiliki variasi yang sama.  Ketika aku mengenakannya, teman-temanku pasti berkata, “cantik sekali bajumu, serasi dengan jilbab, beli di mana?” “Ah, ini jahitan ibuku”, jawabku. Saking kreatifnya ibu menekuni bidangnya itu, ibu pernah menjahit celana tidur, baju potongan untukku dari kain sisa dengan menggunakan tangan, tanpa mesin jahit. Tadinya aku tak percaya kalau jahitan itu manual. Habis, hasilnya rapi, tak terlihat kalau itu jahitan tangan.    
            Ibu, dia adalah pahlawan nomor satu dalam hidupku. Aha, ibuku punya minat bisnis yang bagus. Dia pernah mengelilingi papua untuk berbisnis. Tentu saja, ibu berbisnis tak jauh dari keahliannya, memasak dan menjahit. Emang, sampai di Irian dan Papua pun banyak yang menyukai hasil jahitannya. Kalau ibu punya jiwa petualang dan pantang menyerah. Maka, aku yakin kedua hal itu menurun padaku. Aku selalu siap menerima tantangan. Tak mudah menyerah, sebab tekad selalu aku tanamkan sebelum bertindak. Jika aku pun dijuluki kreatif dan serba bisa oleh anak-anakku di pelosok, maka aku pun percaya kalau bakat itu turunan ibu. Tapi, bagiku tentu ibuku lebih kreatif.
Ibu, dia adalah pahlawan nomor satu dalam hidupku. Anda tahu? Berkat ibuku aku bisa melewati segala rintangan. Kelu-kesah selalu kusambut dengan baik, semua terinspirasi dari ibu. Ibu pernah sukses dalam bisnis dagang, kemudian ia jatuh dan terpuruk. Tetapi, ia bisa bangkit. Saat itulah aku merasa sangat kecil di matanya.
Dulu, waktu masih mengenyam bangku kuliah, aku amat berat untuk mengatakan ini dan itu pada ibu. Sebab aku tahu, masa-masa itu sangat sulit baginya. Makanya, aku berusaha mengejar berbagai beasiswa untuk tetap survive dalam kuliah. Tiga kategori beasiswa pun kuraih. Yah, pandangan orang mungkin berbeda, menganggap keluargaku mampu, tetapi ibuku benar-benar jatuh. Bisnis tak berjalan lancar, modal pun habis. Aku bahkan sering meneteskan air mata sembari membayangakan wajahnya. Makanya, aku bertekad menjadi yang terbaik di setiap kesempatan untuk membuktikan pada ibu bahwa anaknya juga bisa diandalkan.
Tentu tak mudah untuk menjadi yang terbaik, kualitas diri menentukan predikat itu. Tetapi untuk mewujudkan hal itu, aku cukup membayangkan ibu, meminta do’a dan restunya, maka aral terasa ringan untuk dilalui. Aku pernah merasakan sia-sia saja menjadi yang terbaik sebab ibuku takkan mungkin melirik hal itu. Ibuku tak mengerti akan hal itu, ia bukan seorang yang berpendidikan tinggi. Kompetisi dan prestasi baginya tidaklah begitu penting. Yang terpenting adalah bekal keterampilan yang mumpuni. Ah, rasanya aku ingin mengenang masa bangku sekolah dan kuliah. Aku pernah mendapat dua sertikat penghargaan dari sekolah (MAN), juga pernah meraih juara 1 pidato bahasa Arab, pun terpilih sebagai moderator dengan 3 bahasa bersama dua rekanku yang lain. Di perguruan tinggi aku menjadi yang terbaik, tetapi ibu tak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Dari pengalaman itu, aku belajar memahami bahwa yang diinginkan ibuku bukanlah prestasi yang cemerlang, melainkan bukti real di lapangan. Dari hal itu, aku juga belajar mengerjakan segala hal tanpa mengejar apa pun.
Kini, Ramadhan pertama tanpa ibu. Aku tengah menempuh pendidikan di kampus alam, kampus tempat orang-orang ditempa dengan pelajaran hidup di lingkungan sekitar. Di sampingku tak ada ibu yang jago teknik elektro, yang apabila lampu dan kabel listrikku rusak akan diperbaikinya.  Tak ada ibu yang jago masak, yang bila aku lapar akan memasakkan makanan kesukaanku, tak ada ibu yang pandai jahit, yang bila pakaianku robek akan dipermak olehnya. Namun, satu yang tak lekang dan akan terus menemaniku, inspirasi darinya. Aku pun yakin, do’a-do’anya terus mengalir untukku sebab aku bisa merasakannya. Terasa ringan beban ini bila telah membayangkan wajahnya. Ibu, kau pahlawan nomor satu bagiku.


Kisah Klasik dengan Pak Idris


Oleh: Dasnah (SGI III Dompet Dhuafa)

Sepertinya takkan bisa menggambarkan betapa besarnya peranan guru bagi murid-muridnya. Dua hari lalu, penulis membaca sebuah buku karangan Martha Kaufeldt ‘Wahai Guru, Ubahlah Cara Mengajarmu’. Ia mengawali tulisannya dengan membahas bahwa betapa pentingnya memulai segalanya dengan otak.  Seorang guru hebat, akan mempertimbangkan peranan otak dalam menyampaikan ilmu yang hendak ditransfer kepada murid. Kita bisa menamainya dengan pembelajaran berdasarkan otak. Benar, guru punya power bila GURU menyadarinya. Power itulah yang menjadikan murid memiliki power dua kali lipat dibanding guru itu sendiri.
Buku itu mengantarkan penulis pada kenangan masa silam tentang seorang gadis, sewaktu masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri, tepatnya tahun 2003. Gadis beranjak remaja, Ana namanya. Gadis itu bukanlah siswa paling pintar di kelas, namun berkat seorang guru dia memiliki impian untuk menjadi seorang guru pula. Melalui guru pula dia belajar menjadi siswa yang peka dengan sekitar. Sebenarnya ada banyak nama yang tertoreh dalam hatinya jika ditanyakan tentang siapa guru paling berkesan baginya, sebab hampir setiap guru memiliki cara tersendiri menanamkan special moment padanya.
Salah satu gurunya di bangku menengah atas, pernah memantik rasa haru dalam hati kecilnya. Guru hebat itu, Pak Idris, guru pengampuh mata pelajaran Bahasa Arab dan Quran Hadits berhasil memahat special moment amat berharga bagi Ana. Tahukah Anda apa yang dilakukan oleh seorang Pak Idris hingga namanya terpatri dalam sanubari seorang murid yang kini berusaha mengikuti jejaknya? Pak Idris, memang tak bisa bercanda layaknya guru-guru lain, namun sesekali candaan itu terlontar begitu saja darinya hingga membuat seisi kelas tertawa saling pandang.  Sebelum memulai pelajaran, Pak Idris, biasanya bercerita tentang kisah-kisah islami. Pun murid-muridnya terbiasa menghafal hadits dan quran berkat inspirasi darinya. Pak Idris, selain seorang guru, ia juga penghafal quran, tentu tata letak ayat dan terjemahannya, sudah merupakan hal yang biasa-biasa saja baginya. Namun, ternyata bekal itulah yang menjadikan seisi kelas ingin menjadi penghafal sepertinya. Ana contoh konkret, ia berhasil meraih tropi penghargaan sebagai siswa yang memiliki kompeten dalam hafalan quran. Itu bekat inspirasi darinya.
Ternyata, Ana diam-diam menaruh semangat dalam hati ketika guru Quran Hadits itu menyebut namanya, tiap kali ia mengajar di kelas. Bagi sebagian murid, mungkin hal itu adalah sesuatu yang biasa, guru menyebut nama kemudian memberikan instruksi. Sama sekali tak ada yang spesial. Lain halnya dengan Ana, guru menyebut namanya bahkan diinstruksikan apa saja dianggapnya sebagai sebuah penghargaan, dalam ingatannya Pak Idris adalah salah satu sosok guru yang membuatnya bermimpi menjadi guru yang tentunya akan menerapkan metode sang guru menaruh special moment pada muridnya.
Kini, Ana, gadis beranjak remaja itu sudah dewasa. Ia  tengah menjalani profesi yang sama dengan gurunya. Ia selalu memulai pelajaran dengan menghafalkan nama anak-anakanya, bahkan bila ia berkisah atau memberi contoh, nama siswanya kerap diselipkan. Tawa riang tentu terukir pada wajah sang anak yang disebutnya.
Sebutlah Usman, salah seorang anak didiknya. Kehadirannya dapat dihitung jari. Ia juga tak bisa berbahasa Indonesia, menulis dan membaca tak sedikit pun mampu dilaluinya, bahkan abjad masih tak dikenalinya. Padahal, ia sudah duduk di kelas empat. Ia kerap menampakkan wajah malu kepada teman-temannya yang lain saat diminta maju oleh Ana. Hal itu pun disadari betul oleh Ana. Makanya, ia berusaha membuatnya betah berada di kelas. Tak jarang ia menyebutkan nama Usman bila terlontar pertanyaan atau tatkala ia memberikan contoh. Mendengar namanya disebutkan berulang kali oleh gurunya, senyum pun menjadi hiasan indah di wajahnya.
Usman, sepertinya merasakan hal berbeda dari Ana. Bulan-bulan sebelumnya ia memang masih sangat jarang hadir di kelas. Ketika sang guru menanyakan tentang ketidakhadirannya, tak satu pun yang tahu alasannya, meski terkadang beberapa temannya berteriak, “rumahnya jauh, Bu e!” Namun, sudah masuk dua bulan, kehadirannya meningkat sembilan puluh delapan persen.  Ia pun terlihat agak cerah, rapi, dan sudah mulai memoles mukanya dengan senyum. Lagi-lagi, sepertinya karena guru yang kerap mengulang namanya, serta memberinya wejangan dengan pelan. Bahkan, tak jarang Bu Ana meminta maaf dari anak-anaknya tatkala tangannya telah berbalut emosi hingga pukulan setengah keras melayang di pundak mereka.
Ana, yang akrab dipanggil Bu Ana benar-benar menikmati lakonnya, kini. Melihat tawa riang siswanya bila nama mereka disebutkan olehnya, ia seakan kembali mengenang kisah klasik dengan gurunya, Pak Idris. Guru yang telah menancapkan asa hingga mengakar kuat dalam hati kecilnya. Dan kini, asa itu pun berbuah. Buah yang tentu dirasakan oleh anak-anaknya.
Entah sampai kapan kisah klasik bersama gurunya itu akan berujung, yang pasti, ia enggan mengakhirinya. Sebab kisah klasik itu telah menginspirasi dirinya menjadi guru yang kelak akan dijadikan kisah klasik juga oleh anak-anaknya.

Putri Ingin Seperti Ibu


Oleh: Dasnah (SGI III Dompet Dhuafa)

Jumat menjelang siang, sekolah tempatku mengabdi, SDN 15 Woja, tampak sepi. Tak ada anak yang lalu-lalang sembari meneriakiku. Apalagi panggilan mesra dari bocah kecil yang masih duduk di bangku kelas satu. Bocah-bocah itu biasa memelukku dari belakang atau mengenggam tanganku dengan tiba-tiba, sedari tadi tak tampak di pelupuk mata. Selang beberapa menit, aku baru menyadari, hari ini adalah hari spesial, Jumat, apalagi di bulan Ramadhan. Aku hampir saja lupa akan hari penuh ampunan ini. Pantas saja guru-guru meminta izin pulang lebih awal saat melihatku masih asyik di ruang kelas empat bersama beberapa anak-anakku (kelas enam) yang hendak membuat kreativitas dari kardus bekas.
Beberapa anak-anakku terlihat girang saat memasuki ruang kelas yang beberapa bulan lalu, mungkin enggan mereka masuki. Kini, mereka terlihat amat antusias, bahkan hampir tiap hari mereka ingin memasukinya. Kelas itu memang memiliki tampilan baru, beda dengan konsep kelas yang lain. Maklumlah, kelas itu, ingin aku jadikan kelas percontohan. Dengan hiasan dinding, display, serta dilengkapi dengan perpustakaan mini, pun lengkap dengan karpet. Wajar bila mereka ingin berkunjung, selain bisa membaca buku, mereka pun dapat beristirahat. Namun, sesungguhnya bukan hal itu alasan utama mereka terus berdatangan. Ada keinginan belajar yang tinggi, pun penuh dengan motivasi. Mata mereka memancarkan hal demikian. Mungkin ada rasa bangga yang bertahta dalam sanubari mereka. Aku memang sengaja memantik semangat dan motivasi mereka tiap jam pelajaran bahasa Indonesia di kelas mereka (kelas enam). Walhasil, mereka pun manggut-manggut, serta larut dalam pembelajaran.
 Aku selalu mengamati laku mereka, Rabi, Era, Eka, dan Putri, serta Ifan, salah seorang kelas empat yang selalu setia menemaniku pulang paling akhir. Usai jam pelajaran terakhir, saat bel pulang berbunyi, mereka pun berlari menuju ke arah kelasku. Ucapan salam pun membahana di ruang kelas,“Boleh, kami masuk, Bu!” pinta mereka saat mendapatiku tengah asyik merapikan kelas, “Boleh, tapi kalau sudah memakai ruangan, dibersihkan, ya!” Mereka pun berteriak kegirangan. Tawa mereka bukan rekayasa. Anak-anak ini betah sekali berlama-lama di sekolah. Padahal, beberapa temannya yang lain, sedari tadi ingin kembali ke rumah mereka. Hati kecilku kerap berbisik pelan, “Apa yang membuat mereka betah?”
Aku memang menjanjikan kepada mereka akan menghias kelas mereka sama seperti kelas yang sekarang aku tempati. Namun, keasyikan yang mereka rasakan seakan-akan membuat lupa akan jam pulang sekolah. Jika sudah berlama-lama di kelas, biasanya aku bergumam, “Ayo, siap-siap pulang, pasti orang tua kalian mencari-cari, nanti!”, “Tidak, Bu e, kami sudah bilang kepada ibu akan pulang terlambat.” Dengan logat Mbojo, mereka tampak membujukku agar mereka masih diberi waktu beberap menit lagi.
Ah, anak-anakku ini, benar-benar sudah menikmati suasana sekolah. Mereka pun menanti-nanti jam pelajaranku. Jika ada jam pelajaran SBK, pasti bukan sekali atau dua kali mereka laporkan padaku. Maksudnya, sih, ingin agar aku masuk mengisinya.
Siang itu, matahari sudah semakin terik, kumandang adzan juga tak lama lagi akan terdengar, mereka yang sedari tadi sibuk membungkus kardus bekas dengan kertas metalik yang kubeli sebulan lalu, di Kota Dompu. Sama sekali tak tampak lelah pada wajah mereka, padahal anak-anakku ini sedang berpuasa. Subhanallah, bisikku dalam hati. Di tengah asyiknya mereka membuat hiasan untuk kelasnya sendiri, tiba-tiba salah seorang dari mereka, Putri, melontarkan kalimat haru, “Ibu, saya ingin, sih, seperti Ibu!” Entah di mana dan pada bagian mana aku menanamkan special moment padanya. Putri, aku tahu dia anak yang cerdas, cepat tangkap, dia juga pernah mengutarakan cita-citanya saat mentoring di masjid. Seingatku, dia bercita-cita menjadi seorang bidan.
Apa mungkin, cita-cita itu sudah berganti? Saat pertanyaan itu masih berupa lintasan pikiran. Tiba-tiba saja, Era nyeletuk, “Katanya, kamu mau jadi bidan, kok berubah.” Dengan malu-malu, Putri pun mengakui, “Iya, saya bercita-cita menjadi bidan, tapi…”
Aku paham apa yang ada dalam pikiran Putri, meski kepahamanku ini masih sebatas kemungkinan. Menurutku, anak-anakku ini belum pernah mendapatkan special moment dari guru-guru mereka sewaktu masih berada di level bawah. Aku sadar, membangun special moment bagi siswa merupakan langkah yang mesti dilakukan oleh guru sebab aku pun pernah menjadi seperti mereka.
Memang sedari awal kedatanganku di dusun kecil itu,  Putri selalu saja mengikuti ke mana aku pergi, bahkan setiap kegiatan yang aku gelar ia pasti tak ketinggalan. Pernah suatu ketika, aku menulis kaligrafi, tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Ibu ini serba bisa, sih!” Dalam hati aku sempat ciut, seakan tak percaya kalau aku dikatakan serba bisa. Bukan sekali itu, ia memujiku. Saat aku membuat gambar dengan aneka hiasan. Kalimat itu pun kembali berulang. Kini, saat melihat kelas yang kutangani dipermak dengan bentuk berbeda dari kelasnya, lengkap dengan kreasi dari tanganku. Tentu saja makin membuatnya berpikir kalau guru yang baru beberapa bulan dikenalnya adalah guru yang serba bisa. Tiba-tiba saja, aku merasa tak pantas mendengar kalimat itu. Kembali kulanjutkan aktivitasku menemani mereka membuat hiasan untuk kelasnya. Hanya tersenyum simpul dan sedikit girang.
Bisa dibayangkan, seorang Putri yang tadinya bercita-cita menjadi seorang bidan, tiba-tiba saja mengalihkan cita-citanya untuk menjadi seorang guru, hanya karena melihat gurunya serba bisa. Bukankah special moment bagi anak-anak itu bisa bersumber dari laku dan tingkah gurunya?
Mungkinkah yang terbersir dalam hatinya, “Aku ingin menjadi seorang ibu guru, seperti Ibu yang ada di hadapanku.” Kalau demikian adanya, sungguh aku tak sanggup meninggalkan mereka. Mereka yang masih memiliki asa dan cita dalam kerangkeng. Mereka yang masih butuh figur hingga asa itu tertancap kuat dalam dirinya.

Cara Unik Nayla Berkomunikasi


Oleh: Dasnah (SGI III Dompet Dhuafa)

Apa yang terlintas di benak Anda jika aku bertanya tentang arti unik? Apakah Anda akan berkata hwa unik itu ‘berbeda’, ‘lain’ daripada yang lain? Ataukah Anda akan mengatakan unik itu ‘langka’, makanya jarang ditemukan? Ah, ada banyak persepsi yang akan muncul. Namun, aku sedikit ingin berbagi cerita, mungkin saja ada inspirasi yang bisa terpetik tentang bocah yang menurutku unik.
Ingin bercerita tentang satu kisah. Kisah seorang bocah yang kuanggap unik. Entah mengapa, tiba-tiba saja jemari ini ingin menari di atas keyboard laptop butut ini. Mungkin saja, ada kerinduan yang tersemat untuk si bocah. Naila, itu namanya. Ia masih kelas O di PAUD. Biasa dipanggil Nail oleh ayah, bunda, dan kedua kakak perempuannya yang masih duduk di bangku SD. Semua bocah pasti menggemaskan, mungkin hal demikian yang terbayang di benak kita. Namun, agak berbeda dengan Naila, gemas itu mungkin akan hilang seketika bila Anda mencoba mengajaknya senyum, namun tak digubris, melihat ke arahmu saja dia pasti enggan, malah ia akan dengan sangat mudah memalingkan muka tanpa berkata sepatah kata pun. Itulah, Naila. Bagiku dia unik karena susah untuk ditaklukkan. Dia tak seperti bocah kebanyakan, yang bila ditawarkan kue, permen, atau mainan, maka bocah itu akan berlari ke arahmu dan meraih barang yang kau sodorkan itu.
Naila, putri bungsu dari pasangan Amru Asykari dan Nurul Zulaiha. Benar-benar membuatku tertantang untuk mengenalnya. Pernah suatu ketika, aku melihatnya sedang berjalan bersama ayahnya, sengaja kudekati dan hendak mencium pipinya. Tetapi, ia malah menghindar sembari membuang muka dan mengeratkan pegangan pada ayahnya. Susah sekali membuatnya tersenyum, gerutuku. Meski aku menyadari  bahwa aku juga susah tersenyum, yah, bukan karena aku sombong atau cuek. Hanya kurang berlatih saja. Tetapi untuk anak seusia Naila, bukan tak bisa senyum karena kurang berlatih, melainkan masih dalam tahap memilih.
Seperti kataku di awal, dia anak yang unik. Semakin ingin kau berkomunikasi dengannya, maka dia akan semakin menjauh. Tak perlu terburu-buru untuk mengambil hatinya. Pelan tapi pasti. Sikap cuek bebeknya juga yang makin membuatku makin ingin mendekatinya. Awalnya, akan terasa sangat susah bila terus mengajaknya berbicara, sebab tak ada respon darinya. Malah bagai berbicara dengan tembok. Kata bundanya, Naila memang tidak pernah berbicara dengan orang lain selain dengan ayah, bunda, dan pengasuhnya. Bahkan dengan kedua kakak perempuannya pun mungkin jarang. Menurut ilmu psykologi, anak demikian tentu ada gangguan. Namun, bagiku itu adalah sebuah keunikan.
Naila, bagaimana cara menaklukkannya? Buat ia cemburu, merasa tidak diperhatikan, atau merasa dicueki. Mungkin dengan cara itu, ia akan luluh. Sebab semakin ingin didekati, maka akan semakin ia jauh.
Berjalan sebulan baru kusadari cara yang tepat untuk membuatnya dekat adalah membuat ia cemburu. Tanpa sengaja, tak direkayasa, ide itu muncul sendiri secara alamiah. Aku menjadi guru ngaji untuk kedua kakak perempuannya di rumah. Berawal dari hal itulah, Naila mulai berubah.
Mengajar ngaji kedua kakaknya berarti aku memiliki kesempatan lebih banyak juga untuk berinteraksi dengannya. Yah, meski sekadar memanggil namanya atau malah mengajaknya ikutan ngaji.
Awalnya, Naila masih memiliki tingkah yang sama. Tak ada respon bila diajak berbicara. Bundanya pun acap kali mengatakan, “Nail, ditanya sama Bu Guru, tuh”. Ia hanya melirik sejenak, kemudian berlalu. Namun, lama-kelamaan tingkahnya mulai berubah. Tadinya ia tak berani mendekat, malah ia bersembunyi di kamar bila mendengar suaraku dari luar pintu. Perubahannya pelan tapi pasti. Kira-kira kurang lebih dua minggu, ia berani mendekat, bahkan membukakan pintu bila aku memanggil namanya dari balik pintu. Saat kedua kakaknya mengaji pun, ia mulai berani duduk berdampingan denganku. Sesekali, ia melirikku. Namun, aku pura-pura tak melihatnya. Sesekali aku juga sengaja menginstruksikan sesuatu padanya, meski tak berharap banyak bahwa ia akan melakukannya. Namun, ternyata di luar dugaan. Ia mendengarkan instruksiku, tanpa membalasnya dengan jawaban, ya atau tidak.
Aku ingat pernah menanyakan langsung kepadanya tentang sesuatu, “Nail, liat buku iqro kakak tidak?” Tanpa jawaban, ia membongkar tumpukan buku yang sudah tersusun rapi di lemari ruang tamu. Kemudian, dia berlari menuju kamarnya, mungkin ia hendak mencari buku itu di dalam kamarnya, sebab ia tak menemukannya di rak lemari. Ia memang tak menjawab, tetapi ia bisa menangkap informasi lebih dari yang dibayangkan.
Aku juga teringat, saat aku datang lagi untuk mengajari Kamila ngaji (kakak keduanya), dia belum bersiap, tampaknya masih ada sisa kantuk di wajahnya, pun ia belum mengenakan jilbab,  aku bertanya padanya, “Mana Jilbabnya, Kamil?” Tiba-tiba, Naila berlari masuk ke dalam kamarnya kemudian membawa jilbab untuk kakaknya. Karena dia unik, maka cara memberikannya pun berbeda. Ia tak memberikan langsung pada kakaknya, ia malah melemparkan ke arahku.
Aku mulai bisa membaca geraknya. Sebenarnya, ia sudah mulai berkomunikasi. Meski cara yang dilakukannya berbeda. Tak seperti kedua kakaknya yang bila ditanya ini dan itu, maka ia pun akan menjawab ini dan itu. Naila tidak demikian. Butuh proses panjang untuk membuatnya mengangguk.
Satu lagi yang membuatnya tampak berbeda dengan yang lain. Dia punya cara sendiri untuk menerima pesan dari Anda. Salah seorang teman pernah berkata seperti ini padaku, “Wah, mba, kamu hebat bisa akrab dengan Naila.” Ungkapan ini bukan hanya bersumber dari satu atau dua orang, banyak yang berkata seperti itu. Tetapi bagiku hal itu belum cukup selama Naila belum menjawab pertanyaanku dengan “ya” atau “tidak”. Bukan dengan anggukan atau sekadar mengizinkanku menggandeng tangannya. Tetapi, lagi-lagi harus disadari, Naila itu unik. Jangan menyamakannya dengan anak lain yang seusia dengannya. Ia cukup mengangguk bila menerima pesan Anda. Sebaliknya, ia akan menggelengkan kepalanya bila tak setuju dengan Anda.
Bagi sesorang yang belum terlalu dikenalnya, mungkin Naila akan enggan memperlihatkan keunikannya itu. Tetapi, sampaikan saja apa yang ingin kau katakan padanya, sebab ia akan mencerna dan menyimpan dalam memorinya. Bila ia sepaham dengan Anda, kemungkinan besar ia mau mendengarkan Anda.
Perhatikan tulisan yang ada pada gambar di bawah ini…













Sulit dipercaya kalau bocah sepertinya mampu menuliskan kalimat singkat itu. Tentu tak mudah baginya bila harus mengucapkannya langsung. Melalui surat yang ditulisnya, tersirat makna yang sangat dalam. Naila bukan anak yang susah tersenyum, mungkin saja saat menuliskan surat itu, ia tersenyum simpul. Ia hanya belum mampu menerima lingkungan sekitar, entah berapa lama ia akan beradaptasi dan menerima lingkungan. Tentu tak ada yang tahu. Bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui surat saja sudah menandakan ia hanya berada pada tahap memilih. Memilih dengan siapa ia ingin berkomunikasi. Aku memang bukan psikolog yang tahu teori. Aku hanya mengamati dan mempelajari.
Semua itu berawal dari rasa cemburu. Yah, cemburu kalau yang diajak ke mana-mana hanyalah kedua kakaknya, makanya ia pun mencoba menyelipkan dirinya saat aku mengajak kedua kakaknya. Aku memang sengaja tak mengajaknya berkali-kali bila ia sudah membuang mukanya, sebab aku tahu, nanti pun ia akan merasa kesepian dan malah memilih bergabung dengan kami.
Ibarat layangan, semakin kau tarik maka makin kuat pula ia bertahan, namun bila engkau mengendorkan tali layangan itu, tentu akan jatuh dan pada akhirnya bisa kau sentuh. Itulah Naila, memiliki banyak keunikan, tak terkecuali cara berkomunikasi.

Kamis, 16 Agustus 2012

Santan dan Perempuan Taropo Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom (Relawan Guru SGI DD di Tarepo, NTB)


Entah sejak kapan persisnya, secara turun temurun anak-anak di Desa Taropo, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, NTB keramas dengan menggunakan santan kelapa. Caranya cukup unik. Anak-anak yang biasa mandi secara berjamaah di sungai pertama-tama mengunyah kelapa tua yang biasa tersedia di rumah masing-masing. Setelah halus, kelapa kemudian dimasukkan ke dalam gayung berisi air. Kemudian ramuan ini diaduk dan disiramkan ke kepala secara merata sambil dipijat selayaknya orang menggunakan shampoo. Sebelum dibilas, kepala didiamkan dulu selama kurang lebih 15 menit.
Cara lainnya, kelapa diparut, tidak harus dikunyah. Ada lagi yang membakar terlebih dahulu kelapa tua yang akan digunakan. Setelah itu, kelapa hitam dihaluskan dan dibalurkan ke kepala sambil dipijat. Kepala dibasuh dengan air bersih setelah didiamkan selama kurang lebih 15 menit. Cara special ini menambah manfaat menghitamkan rambut.
Di tengah kencangnya arus kapitalisme, janji-janji menggiurkan iklan shampoo di televisi  tidak mampu menggoyahkan tradisi keramas dengan santan. Bahkan setelah dewasa, secara berkala perempuan-perempuan Taropo tetap mengunakan santan kelapa untuk keramas. Walaupun menggunakan shampoo, keramas rambut tetap ditutup dengan membalurkan  santan kelapa.
Ketika ditanya bagaimana rasanya, dengan riang anak-anak Taropo menjawab: “Rasanya halus, tidak kusut”. Atau: “Enak, rambut jadi lurus dan licin, jadi cantik”. Kepercayaan yang berlaku  dimata para ibu adalah santan kelapa mampu membuat adem kepala dari panasnya matahari dan penatnya berbikir. Shampoo pun diyakini dapat membuat kepala panas dengan bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Santan merupakan solusi yang dapat membuat kepala enteng dan adem. Disamping itu, rambut anak-anak Suku Mbojo yang bertipikal kaku dan lebat ini dapat menjadi lemas dan lembut.
Pada faktanya, menurut para ahli santan kelapa mengandung tanin, minyak alami yang yang dapat meningkatkan kesehatan rambut dan melembabkan kulit kepala. selain itu, tanin juga dapat mengurangi tumbuhnya uban, anti bakteri, dan mengandung Vitamin C yang mampu menghilangkan ketombe.
Beginilah cara perempuan Taropo merawat kecantikan rambutnya. Tradisi terus dipelihara dari waktu ke waktu. kesulitan air bersih di wilayah gunung tidak menjadi penghalang bagi perempuan Taropo untuk tetap memiliki rambut indah, meskipun bau yang ditinggalkan santan agak asam di kepala.