Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2012

Menantang Ikhwan Datang Melamar


Oleh: Dasnah (SGI III Dompe Dhuafa)

Rasa-rasanya, kehidupan ini kurang kompleks jika tidak ada perempuan yang berpikir mengejar karir, baru kemudian berpikir untuk menikah. Banyak malah, bukan hanya satu atau dua. Dalam tulisan fiksi pun tak jarang diangkat oleh penulis. Penulis fiksi Best Seller,  seperti, Kang Abik pun mengagkat cerita tentang seorang gadis yang mengejar karir dalam novel Cinta Suci Zahrana. Seorang penulis tak akan menuliskan dalam sebuah cerita tanpa melihat fenomena sekitar. Fenomena yang tak berlaku secara global, namun tumbuh kemudian mengakar.
Tentu bagi Anda yang merasa perempuan hal itu wajar-wajar saja. Apalagi, bila Anda salah seorang yang termasuk menomorsatukan karir. Jadi teringat dengan perbincangan salah seorang sahabat, sebutlah ia, Dea.
Dua bulan lalu, Dea terlibat percakapan dengan teman-temannya tentang kehidupan di masa yang akan datang. Biasa, usia 20 tahun ke atas merupakan hal wajar bila sudah memiliki keinginan untuk mengakhiri kesendirian atau dengan kata lain berpikir untuk menikah. Namun, perbincangan Dea bersama tiga rekannya sepertinya sudah di ambang penantian. Dea sudah berusia dua puluh tujuh tahun, dan tiga orang temannya yang lain berusia dua puluh enam dan dua puluh lima tahun. Pantas, umur-umur demikian memang sudah sangat matang, pikirku.
Dea, gadis itu seorang dosen muda di perguruan tinggi negeri, di kota gading. Akhlaknya terjaga, pandangannya pun selalu dijaga. Makanya, tak seorang lelaki pun yang berani bermain-main dengannya. Dea, gadis itu sudah cukup matang untuk menjalani bahtera rumah tangga. Ia bukannya tak laku-laku seperti lagu band ‘Wali’, ia gadis sholehah. Wajarlah jikalau sang pencipta menjaganya dari keinginan lelaki yang tak sekufu.
Dari perbincangan itu, kedengarannya Dea bukan lagi dalam kondisi siap, melainkan amat siap menuju jalan suci itu. Jalan untuk menyempurnakan agama ini. Tiba-tiba, salah seorang temannya berkata, “De, mau tidak aku jodohkan dengan temanku?”. “Ah, tidak, ah” jawabnya singkat.  Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Seorang teman ingin berniat mencarikan jodoh, namun ia tetap kekeh menolak. Meskipun sesekali ia berkata, “asalkan mampu menjadi imam bagi keluargaku kelak”. Sungguh, Dea bukan gadis yang muluk-muluk. Mau ini dan itu, namun entahlah dengan keluarganya.
Dalam percakapan itu, tiba-tiba Dea menimpali temannya, “kamu sendiri, kapan berniat ingin menikah?” “saya, sih, masih lama. Masih ingin mengejar cita-cita, dulu!” Perbincangan di antara mereka pun makin seru. Dea dengan segala kecerewetannya mulai berceramah tentang pentingnya berpikir ke arah bahtera rumah tangga. Di penghujung perbincangan itu, Dea berharap jodoh itu akan segera mengetuk pintu rumahnya. Begitu pula dengan teman yang terlibat dalam percakapan, kecuali Vita yang masih ingin mengejar karir dan cita-citanya. 
***
Sungguh perbincangan mereka amat wajar. Perempuan, bila sudah melewati usia 25 tahun, maka rasanya sudah patut diberikan tanda warning. Namun, kita pun tahu bahwa jodoh adalah salah satu rahasia yang maha kuasa. Tak patut kita mendahului-Nya dengan menerka-nerka dan berkata, “mungkin dia, dia, atau dia-lah jodohku kelak.” 
Lantas bagimana dengan kodrat ‘perempuan’ yang notabene sangat riskan dengan gunjingan bila ia menyebut-nyebut soal jodoh. Apalagi sampai sempat berpikir menantang ikhwan ‘laki-laki’ untuk datang melamar. Pasti, sudah menjadi bahan cerita. Teringat dengan kisah Rosulullah yang dilamar secara tidak langsung oleh seorang janda kaya yang baik akhlaknya, Khadijah binti Khuwailid. Bukankah, Khadijah telah memberikan contoh yang baik bila seorang ‘perempuan’ ingin melabuhkan hatinya pada ‘lelaki’ yang tepat? Kita tahu bahwa pada diri Khadijah terkumpul perangai mulia, wajarlah bila Rosulullah menerima pinangannya.
Dulu dan sekarang adalah dua kondisi yang amat berbeda. Pasti pikiran demikian kerap muncul dalam lintasan pikiran. Mana mungkin, perempuan menawarkan diri untuk dilamar? Fitrahnya, kan, perempuan yang dilamar. Mungkin demikianlah yang terbersir dalam hati ‘perempuan’ bila dihadapkan pada kondisi demikian. Kondisi di mana sudah sangat ingin menjaga diri dengan penjagaan seorang yang dapat dijadikan imam.
Sehubungan dengan hal demikian, sepertinya penting penulis berikan kutipan tentang persoalan lamar-melamar ini. Direktur Sekolah Kepribadian Muslim Glows, Kingkin Anida, mengatakan, sebaiknya perempuan tidak melamar lelaki secara langsung sebab Allah memuliakannya sebagai pihak yang dilamar. Namun, jangan juga melewatkan peluang bagus, maksudnya, kesempatan untuk menjadi istri lelaki shalih, (dikutip dari majalah UMMI edisi Mei 2012). Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits terkait dengan perbincangan ini, Kutipan di atas benar adanya, perempuan diistimewakan dengan lamaran. Perempuan shalihah pun berhak mendapatkan lelaki shalih. Tidak ada salahnya bila perempuan mendahului lelaki. “Dari Tsabit Al Bunani, dia berkata, ‘Aku pernah berada di dekat Anas bin Malik, dan di sampingnya ada anak perempuannya. Datang seorang perempuan dan ia berkata, ‘Ya, Rasulullah, apakah engkau mau kepadaku?’ Mendengar hal ini putrid Anas berkata, ‘Alangkah sedikit rasa malunya, sungguh memalukan.’ Anas berkata, ia lebih baik dari kamu. Ia senang pada Rasulullah lalu menawarkan dirinya untuk beliau.”
Namun, satu hal yang harus diingat, jika keputusan demikian sudah terpatri, maka amat penting bagi ‘perempuan’ untuk membekali diri dengan berbagai keunggulan sebagai nilai plus bagi dirinya. Entah itu prestasi cemerlang dalam akademik, keterampilan dasar yang mesti dimiliki oleh seorang perempuan (menjahit, memasak, merawat anak), dan soft skill, seperti pandai menulis, berbicara, dan bergaul, dll. dan yang pasti akhlaknya terjaga.  Ibaratnya ‘perempuan’ menantang ikhwan ‘laki-laki’ untuk datang melamar. Sesuatu yang ‘menantang’ sudah barang tentu membutuhkan perjuangan untuk menggapainya. Bila demikian, tak sia-sia perempuan shalihah menyatakan niat baiknya kepada laki-laki shalih sebab pihak yang didahului pun akan merasa tertantang dengan keunggulan yang dimiliki oleh si perempuan. *** Wallahu’alam bissawaab

Muslimah dalam Kancah Politik



Oleh: Dasnah

Salah satu lapangan kehidupan yang bernilai strategis, namun sangat jarang dimasuki oleh perempuan adalah politik. Alasan yang sering dibenturkan adalah Islam begitu menjunjung peran perempuan, memasuki arena politik berarti mengeksposnya. Selain itu, politik juga dipandang sebagai sesuatu yang kotor dan hanya bersifat kekuasaan. Padahal politik adalah salah satu lahan dakwah yang sangat srategis, namun amat terabaikan. Untuk itu, bekal yang harus disiapkan adalah memahami politik dari kacamata Islam, bukan dari sekularisme.
POLITIK DAN PEREMPUAN
Islam telah memberikan hak sosial, politik, dan ekonomi kepada perempuan. Islam selalu menjaga kehormatan dan memperlakukan perempuan dengan penuh penghargaan dan keagungan. Sungguh suatu hak yang tidak pernah diberikan oleh ideologi manapun di dunia ini, selain Islam. Syekh Muhammad Abduh pernah berkata (dalam Cahyadi:145-146) bahwa  kedudukan yang diperoleh kaum perempuan ini, belum pernah diberikan oleh agama dan undang-undang manapun di dunia ini, kecuali Islam. Nahlan belum pernah dicapai dan diperoleh bangsa-bangsa manapun, baik sebelum maupun sesudah Islam. Bangsa Eropa misalnya, karena kemajuan peradabannya telah menghormati dan memuliakan perempuan dengan cara membekalinya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Namun kedudukan yang mereka berikan itu, masih jauh lebih rendah dibandingkan kedudukan yang diberikan Islam kepada perempuan.
Pandangan yang diungkapkan oleh Syekh Muhammad Abduh di atas memang sungguh merupakan sesuatu yang luar biasa bahkan sangat istimewa. Hal itu pun mampu membuat perempuan sangat tersanjung. Perempuan mana yang tidak menginginkan penghargaan itu. Sekiranya ada pembagian hak istimewa tentang penghargaan, akan sangat mungkin terjadi antrian yang amat panjang. Namun, realita berkata lain. Perempuan sendiri yang tak menginginkan penghargaan itu, bahkan ketika ada kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menghargai dan memberikan penghormatan kepadanya, perempuanlah yang kali pertama menentangnya dengan alasan tidak menghargai Hak Asasi Manusia (HAM).
Sejarah telah mencatat bahwa pada abad pertengahan, tepatnya tahun 1500 M, Eropa telah menyaksikan tragedi penyiksaan yang sangat keji terhadap perempuan. Sebanyak sembilan juta perempuan dibakar hidup-hidup oleh sebuah Dewan Khusus, yang sebelumnya mengadakan pertemuan di Roma, Italia dengan sebuah kesimpulan bahwa “kaum perempuan tidak mempunyai jiwa”. Sedangkan lembaga filsafat dan ilmu pengetahuan di Yunani memandang perempuan secara tiranis dan tidak memberinya kedudukan berarti dalam masyarakat. Bahkan menganggap perempuan adalah makhluk yang lebih rendah dari laki-laki. Di dalam ajaran Hammurabi pun perempuan disejajarkan dengan binatang. Kitab suci bangsa Cina tak bedanya dengan pandangan tersebut, yakni perempuan dinamakan sebagai “air yang celaka” karena ia akan mengikis habis segala keberuntungan. Filsafat Barat Amerika menganggap perempuan harus melepaskan tugas keperempuannya sehingga tidak ubahnya mereka sebagai barang dagangan seperti mobil, kulkas, dan televisi.
RAMBU-RAMBU MORAL AKTIVITAS POLITIK
Sekelumit tragedi tentang perempuan di atas membuat hati para perempuan sangat teriris. Akan tetapi, pada hari ini kejadian itu seakan diminta sendiri oleh kaum perempuan. Dan menjadi sebuah masalah bersama yang mesti dipecahkan. Jalan yang mesti dilalui adalah menghimpun kekuatan untuk membuat suatu kebijakan dalam kancah politik, dan penggerak yang dibutuhkan untuk memperjuangkan hal itu adalah perempuan. Sebab yang dapat mengerti perempuan adalah perempuan itu sendiri. Tampaknya kita perlu merenungi uraian singkat yang dfirmankan Allah s.w.t dalam mushab suci Islam di bawah ini:
Barang siapa yang mengrrjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka mereka itu masuk surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit (An-Nisa’ 4: 124)
Sungguh kutipan kalam Allah di atas mampu memotivasi umat-Nya untuk meretas langkah menuju jalan dakwah-Nya. Dan sungguh Islam pun merupakan agama paripurna telah meletakkan segala ukuran dengan tepat bagi segala ruang dan waktu kehidupan kemanusiaan. Keseimbangan atau balancing merupakan fokus penting dalam penetapan  ukuran tersebut. Realitas adanya laki-laki dan perempuan adalah salah satu Sunnatullah keseimbangan, di mana kedua jenis makhluk Allah tersebut dapat saling melengkapi dan bekerjasama secara proporsional pada segala Zona  kehidupan. Demikianlah yang diungkapkan Cahyadi dalam bukunya “Fikih Politik Kaum Perempuan”.
Meretas langkah menuju jalan dakwah adalah satu ungkapan yang membutuhkan subyek untuk menggapainya. Memikirkan bagaimana strateginya juga merupakan suatu yang harus dilakukan secara analitik. Pernyataan ini bukanlah sesuatu yang sulit untuk dipahami. Bukankah Islam telah mengatur keseimbangan dalam ssegala sisi kehidupan. Perempuan adalah titik keseimbangan dari laki-laki. Maka dianggap penting untuk menumbuhkan titik itu demi misi dakwah yang diemban oleh tiap-tiap makhluk ciptan-Nya. Ketua Persaudaraan Muslimah Yogyakarta menyatakan bahwa Naisbitt telah memprediksikan tentang kiprah perempuan yang akan semakin menonjol pada abad 21. Perempuan maju menuru Naisbitt, adalah perempuan yang lebih berani tampil tanpa “dihambat” oleh berbagai macam aturan agama. Pernyataan ini bisa jadi merupakan bagian dari ide masyarakat sekuler, atau perlawanan masyarakat yang terdominasi oleh doktrin-doktrin keagamaan, sedemikian rupa, hingga mematikan potensi kemanusiaan mereka. Ada berbagai pandangan yang dapat terlahir dari pernyataan tersebut.
Strategi yang dapat dimunculkan untuk misi dakwah dapat mencakup berbagai bidang. Politik misalnya, sebagaimana bidang ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya juga merupakan bagian dari syumul Islam yang tak dapat ditinggalkan oleh muslim dan muslimat. Politik bukanlah sekedar kehidupan dunia yang berkonotasi kotor, sedangkan Islam bukanlah sekedar urusan dunia yang berkonotasi bersih. Justru Islam meletakkan pondasi yang kokoh yaitu hanya ada satu jalan untuk menggapai kemenangan duniawi dan ukhrawi. Rasulullah pernah memberikan instruksi, kalaupun kita tahu besok kiamat, sedang hari ini di tangan kita ada biji tumbuhan, tanamlah segera!
Tak dapat dipungkiri bahwa di kalangan komunitas Islam sebuah fenomena sekularisme amat kental terlihat oleh kedua mata, termasuk dalam bidang politik. Bahkan tak ayal terdengar di telinga kita. Tetapi bukan berarti kita harus menutup mata dan menyumbat telinga untuk hal demikian. Sebagian masyarakat menolak politik karena menganggap bukan dari bagian Islam, bahkan ada yang memarginalkan peran politik perempuan, karena dianggapa wilayah terlarang.
Dalam kalam diterangkan bahwa”Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya kami beri balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan(An-Nahl 16: 97).
Pernyataan Sang Pencipta seakan berulang dalam surah An-Nahl di atas bahwa niat yang baik akan terbalaskan dengan yang baik pula bahkan telah dijanjikan akan lebih baik lagi. Bukankah ini dapat dijadikan sebagai sebuah signal tentang kiprah perempuan dalam segala bidang, termasuk politik. Tentunya dalam koridor Islam. Untuk mengantarkan pemahaman kita tentang politik, perlu diketahui definisi dari politik itu sendiri. Dalam persfektif Aristoteles dan para filosof Yunani, politik dimaknai sebagai segala sesuatu yang sifatnya dapat direalisasikan kebaikan di tengah masyarakat. Ia meliputi semua urusan yang ada dalam masyarakat; sudut pandang ini meletakkan politik sebagai bagian dari  moral dan akhlak. Secara terminologi Arab, dapat dipahami bahwa kata siyasah (politik) berasal dari kata as-saus yang berarti ar-riasah (kepengurusan). Jika dikatakan saasa al-amra berarti qaama-bihi (menangani urusan). Syarat bahwa seseorang berpolitik dalam konteks ini yakni melakukan sesuatu yang membawa maslahat jamaah atau sekumpulan orang.
Jika segelintir perempuan tergerak untuk berpolitik dengan membawa maslahat sekumpulan orang, rasanya amat picik pikiran kita bila menganggap kiprah itu tidak sesuai dengan koridor Islam. Selama dalam langkahnya sesuai dengan ketentuan yang telah disyariatkan. Wallahu’alam bissawaab.**
Catatan: Pernah diterbitkan di www. dakwatuna.com
Tanggal muat: 9/8/12 = 21 Ramadhan

Dua Watak Utama Perempuan


Oleh: Dasnah

Islam adalah agama yang syumul (menyeluruh), memuat semua sisi kehidupan masyarakat. Membahas segala bentuk ciptaan-Nya melalui kitab Al-Quran yang diturunkan melalui Rasulullah s.a.w. Salah satu pembahasan dalam Al-Quran tentang makhluk ciptaan-Nya adalah muslimah atau lebih dikenal dengan kata perempuan. Berbicara tentang perempuan, maka akan banyak hal yang akan didapati dan untuk mengupas semua itu tidak akan cukup, jika hanya menggunakan waktu sejam, sehari, seminggu, atau bahkan sebulan. Dalam Al-Quran dijelaskan tentang segala hal yang mesti menjadi tuntutan bagi perempuan. Termasuk di dalamnya bagaimana berinteraksi, bagaimana semestinya dalam bersikap, berpakaian, dan bahkan bagaimana semestinya perlakuan terhadap perempuan. Suatu hal yang menarik untuk dikupas dalam perbincangan, mengapa perempuan menjadi suatu momok yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Salah satunya adalah karena keindahan perempuan. Namun, untuk memasuki pembahasan tersebut lagi-lagi membutuhkan waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu, penulis membatasi pemabahasan pada tulisan ini, yakni Mengenal Dua Watak Utama Perempuan Menuju Introspeksi.

Dalam kehidupan sehari-hari bukan bukan suatu yang tak asing lagi tatkala kita melirik aktivitas perempuan. Penuh dengan gaya, tren, dan modis. Intinya tidak jauh dari bau-bau dandan alias gaya. Ternyata, Terkait dengan watak perempuan, ternyata telah dijelaskan dalam Al-Quran bahwa ada dua sifat utama dari perempuan. Dalam Al-Quran surah Az-Zukhruf ayat (18):

“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan sebagai perhiasan sedang ia tidak mampu memberi alasan yang tegas dan jelas dalam pertengkaran(Q.S. Az-Zukhruf: 18)

Ayat di atas menjelaskan tentang dua watak utama kaum perempuan. Pertama pada dasaranya perempuan ‘suka berdandan’. Hal itu jelas diungkapkan dalam terjemahan di atas sebagai perhiasan. Kedua, perempuan itu suka membantah, sebagaimana terdapat pada kalimat terakhir dan jelas dalam pertengkaran. Jadi pada dasarnya perempuan memiliki fitrah sebagaimana terdapat dalam ayat di atas. Penulis tidak iseng-iseng menafsirkan ayat di atas. Seorang ustadz pernah menjelaskan kepada penulis bahwa pada dasarnya sifat perempuan terdapat dalam alquran. Salah satu surah dalam alquran yah, Az-Zukhruf: 18.
Wajar bila Anda melihat perbedaan mencolok antara laki-laki dengan perempuan bila berjalan beriringan. Pada umumnya laki-laki akan berpenampilan sederhana dan tidak neko-neko, sebaliknya perempuan jauh lebih mementingkan penampilan dibandingkan apa pun.
Telah jelas bahwa ada sifat yang melekat pada diri perempuan yang secara alamiah tak dapat dinafikkan. Kedua watak tersebut bukan sesuatu yang mesti dibiarkan. Sebaliknya, kedua watak tersebut mesti diminimalisir, bahkan kalau perlu di-delete dalam karakter, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu. Karena ternyata inti dari seruan itu adalah Allah menyeru untuk tidak menampakkannya.
Realitas telah membenarkan ketetapan Allah yang sudah ada jauh sebelum kita prediksi bahwa akan ada prediksi seperti ini nantinya. Tidak ada yang dapat memungkiri bahwa perempuan memang suka berdandan. Dan yang paling banyak membantah bila ditegur juga adalah perempuan. Bila hal ini masih menjadi tanda tanya dalam benak, maka boleh kita mengadakan penelitian atau observasi tentang laku dari perempuan ini. Berapa kali dalam sehari ia bercermin, berapa kali dalam sehari ia memoles bedak pada wajahnya, berapa kali ia membetulkan posisi bajunya. Bukan hal yang mustahil hasilnya akan sama dengan yang tertulis dalam Al-Quran bahwa ‘berhias dan membantah’ adalah fitrah perempuan.
Namun demikian, bukan berarti hal ini membuka ruang bagi laki-laki untuk menjadikan dua hal tersebut adalah kelemahan mutlak yang melekat pada perempuan, sebab jika perempuan mampu mengendalikan kedua sifat itu menjadi sesuatu yang tidak berlebihan, maka reward pantas diberikan pada perempuan. Tentunya perintah Allah pun dilaksanakan bukan?  Penulis hanya ingin menekankan bahwa kedua watak itu, bisa saja menjadi boomerang, kalau tak ada pemahaman awal tentang Islam. Dan sebaliknya, bisa saja menjadi senjata kita untuk kondisi tertentu. Yang mesti dilakukan adalah menjadikan kedua watak itu sebagai media introspeksi diri.
Cat: sudah diterbitkan di dakwatuna

MUDAHNYA MEMBUAT MENARIK PEMBELAJARAN IPS DENGAN COOPERATIVE LEARNING

Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom

Pelajaran IPS sangat penting untuk siswa. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Through social subject learners can be directed to an Indonesian citizens of a democratic and responsible and peace loving citizens of the world (KTSP, 2006). Melalui pelajaran IPS, siswa mengenal perannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Tetapi sayangnya, isi pelajaran IPS seringkali tidak konkret, sehingga tidak mudah bagi siswa untuk mengerti materi pembelajaran. Contohnya materi Semangat Kerja di kelas 3. Materi Semangat Kerja memiliki dua kompetensi dasar. Yaitu mengenal jenis-jenis pekerjaan dan memahami pentingnya semangat kerja. Mengenal jenis-jenis pekerjaan mudah dilakukan siswa karena siswa melihat  langsung berbagai profesi yang ada di sekitarnya. Tetapi memaknai semangat kerja seperti pentingnya memiliki pengetahuan lebih dan tetap jujur dalam berwirausaha, telaten berkerja tengah malam sebagai perawat, dan tidak gentar karena panas terik matahari dan gagal panen bagi petani cukup sulit dimengerti. Siswa kelas 3 SD belum pernah memiliki profesi pekerjaan dan merasakan bekerja.
Berbeda dengan pelajaran IPA, cukup menghadirkan alat-alat praktek sederhana, siswa langsung mengerti karena mengalami sendiri proses gejala alam yang terjadi. Contohnya proses terjadinya bunyi. Guru bisa meminta siswa memukul meja atau memetik karet hingga mengeluarkan bunyi. Mulai dari getaran, udara, dan bunyi yang ditimbulkan dapat di lihat dan di rasakan langsung oleh siswa. Oleh karena itu, membuat pelajaran IPS menjadi menarik wajib bagi guru, agar siswa dapat memahami materi pelajaran. Cooperative learning dapat menjadi salah satu alternatifnya.  
Cooperative learning adalah aktivitas belajar kelompok yang diatur sehingga kebergantungan pembelajaran pada struktur sosial pertukaran informasi antar anggota dalam kelompok dan tiap anggota bertanggung jawab untuk kelompoknya dan dirinya sendiri dan dimotivasi untuk meningkatkan pembelajaran lainnya (Carolyn Kessler, 1992). Banyak penelitian menunjukkan keberhasilan metode ini dalam: (a) pencapaian hasil belajar yang lebih tinggi dan produktivitas yang lebih besar, (b) meningkatkan rasa kepedulian, saling mendukung, dan hubungan yang erat, dan (c) meningkatkan kesehatan psikologis, sosial, kompetensi, dan penghargaan terhadap diri sendiri (Slavin,1985).
Jarolimek (1993) mengatakan, diharapkan pendidikan IPS mampu mengembangkan aspek pengetahuan dan pengertian (knowledge & understanding), aspek sikap dan nilai (attitude & value), serta aspek keterampilan (skill) pada diri siswa. Iklim kompetitif dalam cooperative learning antar kelompok membuat siswa berpartisipasi aktif dan berlomba-lomba memenuhi tujuan pembelajaran sesuai arahan guru. Berikut beberapa model pembelajaran cooperative learning yang dapat digunakan untuk mata pelajaran IPS beserta langkah-langkah penerapannya:
1.      Snowball throwing
Snowball throwing adalah model pembelajaran aktif dengan menggunakan bola. Setelah apersepsi, guru membentuk kelompok-kelompok. Kemudian memanggil masing-masing ketua kelompok, dan memberikan penjelasan tentang materi. Masing-masing ketua kelompok kemudian kembali ke kelompoknya dan menjelaskan materi yang telah disampaikan guru. Setelah itu masing-masing siswa diberi satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan tentang materi (dalam satu kelompok tidak boleh ada pertanyaan yang sama), misalnya apa pengertian semangat kerja (berdasarkan penjelasan ketua kelompok). Lalu kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar ke kelompok lain untuk di jawab pertanyaannya. Setelah menjawab, kelompok ini melemparkan bola kertas miliknya kepada kelompok lain, begitu seterusnya. Kelompok yang menjawab dengan benar, berhak mendapatkan skor (tulis di papan tulis). Setelah guru merasa cukup, guru bisa menyimpulkan, memberi tindak lanjut, dan menutup pelajaran.   
2.      Bertukar pasangan
Dalam model ini, siswa dibentuk berpasangan, lalu guru memberikan soal mengenai materi Semangat Kerja untuk dikerjakan bersama. Setelah selesai, siswa bertukar pasangan dan saling bertanya, menjawab dan mengukuhkan jawaban mereka. Temuan baru yang ditemukan di pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.
3.      Make a match
Model pembelajaran make a match menggunakan kartu sebagai alat. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi materi pelajaran. Ada kartu yang berisi soal, ada kartu yang berisi jawaban. Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu. Lalu memikirkan soal atau jawaban dari kartu yang dipegang. Kemudian setiap siswa mencari pasangan yang cocok dengan kartunya, lalu mencocokkan kartu sebelum batas waktu yang diberikan. Dalam kesempatan ini siswa berdiskusi mengenai pertanyaan dan jawaban di dalam kartunya. Setelah satu babak kartu dikumpulkan dan dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Jika masih ada waktu bisa diulangi kembali sesuai kebutuhan.
Masih banyak model cooperative learning yang dapat digunakan untuk membuat pembelajaran IPS menjadi menarik bagi siswa. Dalam metode ini, siswa saling berinteraksi dan bahu-membahu untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran. Sesuai dengan salah satu tugas perkembangan anak usia sekolah (6-12 tahun), yaitu belajar bergaul dan bekerja sama dalam kelompok sebaya  (Havighurst, 1972).
            Selain itu, cooperative learning menggunakan metode scoring, dimana siswa akan berlomba-lomba memenuhi instruksi guru untuk aktif dalam pembelajaran. Dengan menggunakan metode ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya (Slavin, 1995). Kompetisi yang tercipta membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Sebagaimana yang dikatakan Meier (2002), salah satu ciri dari pembelajaran menyenangkan adalah menarik bagi siswa. Sehingga materi pembelajaran IPS yang kurang konkret dapat dimengerti oleh siswa.