Minggu, 19 Agustus 2012

Mengadu Nasib di Pohon Kinca



Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom
(Relawan Guru SGI DD di Tarepo, NTB)

Pernah dengar Buah Kinca? Di Indonesia Bagian Barat anda mungkin tidak mengenalnya. Tapi di Indonesia Bagian Timur, terutama Dompu NTB, buah ini cukup menjadi favorit. Segarnya yang sepat-sepat asam menjadi penghibur ditengah udara panas siang hari Dompu yang menyengat. Bahkan, di sebuah Desa bernama Taropo, ia menjadi sumber penghidupan bagi seorang anak kelas 6 SD bernama Dian.
Mardianto nama lengkapnya. Orang tuanya adalah seorang petani di ujung selatan paling utara Kabupaten Dompu, NTB. Kehidupan ekonomi yang sulit membuatnya bolak-balik merantau Jakarta-Blora-Dompu. Karena itu, dalam usianya yang masih belia, Dian sudah merasakan kerasnya perjuangan untuk bertahan di suatu tempat. Setahun terakhir, Dian kembali dibawa bapaknya kembali ke Dompu, sementara ibunya bertahan di Ibu Kota menjadi buruh pabrik.
Setiap pagi Dian memulai harinya dengan memanjat pohon Kinca di halaman rumah seorang tokoh Taropo. Buah yang berhasil dipetik kemudian dijual kepada teman-teman sekolah. Dalam satu hari, pendapatan kotor Dian bisa mencapai Rp.20.000,-. Setelah disetorkan kepada si empunya Kinca, Dian bisa mendapat upah kurang lebih Rp.3000, tergantung dari hasil penjualan. Dengan cara inilah Dian bisa jajan untuk dirinya dan adiknya. Tinggal tanpa seorang ibu, Dian sehari-hari juga mengasuh adiknya.
Tidak mudah memanjat Pohon Kinca. Buahnya yang terletak di ujung-ujung dahan cukup sulit untuk diraih. Belum lagi pohonnya tinggi menjulang, dahan pohon hanya dapat dicapai jauh di atas. Dian yang memiliki kecerdasan kinestetik tinggi merupakan satu-satunya anak yang dapat memanjat pohon Kinca. Menolong tetangga mengambil buah kelapa juga menjadi kegiatan sehari-hari Dian meski tidak mendapat upah.
Selayaknya anak-anak Taropo yang lain, Dian sudah sering ikut berangkat ke hutan untuk mencari madu, ikan, udang, dan kepiting. Digigit kalajengking dan bertemu ular adalah hal biasa baginya. Bahkan Dian sudah diwarisi jampi-jampi untuk mengobati gigitan binatang buas dari kakeknya yang telah meninggal. Mencari madu hutan akan dilakukan setiap tiga bulan sekali ketika tiba musimnya. Satu liter madu dihargai Rp.50.000 rupiah. Madu asli dari Gunung Tambora, puncak tertinggi NTB. Karena berburu madu bersama dengan orang dewasa, Dian biasanya tidak mendapat persenan. Hanya dari Buah Kinca lah Dian bisa membeli jajan seperti teman-temannya yang lain.

Note: tulisan ini pernah dimuat di majalah Swara Cinta Dompet Dhuafa edisi  Juni-Juli

Menjadi Orang Terkenal


Oleh: Clara Novita Anggraini

Inspiration Of Woman, Dian Sastro Wardoyo
Cantik berjatuhan disetiap langkahnya
sayang, tidak bisa mengobati Indonesia
andai dia copot make up dan menggantinya dengan dengan 1000 nasi bungkus untuk pengemis jalanan

Bumi pilu,
lampu diskotik tak henti berkelap-kelip

Menjadi pahlawan dikenang sepanjang masa
syahid, sungguh tak terlupakan
tapi bukan pahlawan reformasi yang tak pernah diakui
bukan pula Munir, tiada kejelasan
Seperti Abu Bakar saja, idola para mujahid
atau Ahmadinejad, berjaya melawan Tirani Adidaya

Kalau ingin mendapat simpati sih
jadi korban bencana
kelaparan menunggu sekardus mie instan
sisa gerogotan jamaah tikus berdasi, mulai dari parlemen sampai kejalanan
yang mau mengusut dijadikan kusut
salah-salah bisa ikut jadi kisut

Harap bisa,
Aku ingin segagah Al-Aqsa
layaknya Taufik Hidayat di lapangan Badminton
sesuci embun redakan konflik negeri ini
Tidak akan melewatkan doa tiap sujud
Untuk Aku,
            Saudaraku
     dan Bangsaku

Ramadhan Ini, Sekolah Kami Tak Lagi Mati Suri

14 August 2012 11:09 am | Oase - 252 Reads


Sudah hampir empat bulan saya dan teman-teman SGI3 penempatan Dompu, NTB, mencoba mengabdi. Berbagai shock culture telah kami temui dan lewati. Mulai dari bahasa, makanan, tempat tinggal, hingga budaya di masyarakat. Termasuk budaya siswa meliburkan diri dari sekolah pada Bulan Ramadhan. Oleh karena itu, memaintain siswa untuk berangkat ke sekolah pada Bulan Ramadhan menjadi PR utama untuk saya.

Sejak sebelum memasuki bulan ramadhan saya sudah sering mendengar keluhan para guru (sekaligus untuk meyakinkan saya) bahwa pada Bulan Ramadhan tidak ada siswa yang mau berangkat sekolah. Sekolah menjadi mati suri. Peraturan pemerintah yang meliburkan pada H-3 lebaran tetap harus dijalankan. Para guru datang tanpa ada siswa. ketika saya bertanya kenapa bisa begitu, para guru yang meyakinkan saya berkata anak-anak mengikuti siswa MI (sekolah swasta) yang libur pada bulan ramadhan. Selain itu, menurut hasil pengamatan saya seringnya tidak ada kegiatan di sekolah turut menjadi penyebab. Siswa datang ke sekolah, bermain, dan dua jam kemudian datang kepada guru untuk bertanya: “Ibu guru ule kelas dua?” (”Ibu guru pulang kelas dua?”, Bahasa Lombok). Jawaban guru yang biasanya menyatakan “Belum”, akan mendapat tambahan keluhan dari para siswa yang kemudian kembali bermain. Fenomena seperti ini terjadi secara merata, setidaknya di sekolah-sekolah yang saya temui di pelosok.

Saya memutuskan untuk mengadakan pesantren kilat. Mengirim surat pemberitahuan tetap sekolah kepada wali murid gagal dilaksanakan karena awal ramadhan bersambung dengan waktu liburan semester. Alhasil, saya menuliskan pengumuman jadwal masuk sekolah beserta kegiatan yang akan diikuti siswa di setiap papan tulis kelas. Setelah itu, saya kumpulkan dan menjelaskan pengumuman pada siswa yang hanya hadir 50 orang saja dari 144. Sambutan mereka luar biasa. Saat itu juga mereka saya minta pulang untuk membawa tikar dan perlengkapan shalat. Karena akan ada kegiatan wudhu setiap sebelum masuk kelas, kami (saya dan para siswa) menyepakati untuk ke sekolah memakai sandal selama pesantren kilat.

Rangkaian kegiatan pesantren kilat kami mulai dengan shalat dhuha, kemudian dilanjutkan dengan ceramah dari guru agama, kemudian mengaji. Kegiatan mengaji saya bagi ke dalam tiga kelompok. yang pertama kelompok Iqra’, kelompok Al-Quran, dan kelompok khataman. Kelompok khataman terdiri dari siswa-siswa yang sudah lancar membaca Al-Quran dan menargetkan satu kali khatam pada bulan ramadhan ini. Metodenya bergiliran membaca satu ayat sambil duduk melingkar, sementara kelompok yang lain di bimbing oleh para guru. Saya juga menargetkan para siswa hapal surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Al-Kautsar. Metode pembelajaran cooperative learning sangat efektif dalam praktek hapalan surat pendek ini, dimana siswa yang sudah hapal mengajari teman/adik kelas yang belum hapal. Shalat dhuha setiap pagi dengan suara dikeraskan juga sangat membantu siswa kelas rendah untuk cepat menghapal.

Satu minggu pertama, kedatangan siswa terus meningkat hingga mencapai hampir 80 orang. Walaupun demikian, tetapi masih ada yang menyangsikan kedatangan siswa di minggu selanjutnya. Minggu kedua, kedatangan siswa menurun kembali seperti di awal ramadhan. Tetapi saya tetap optimis, karena kedatangan siswa setiap hari fluktuatif, rata-rata sekitar 50 orang, jauh lebih baik daripada sekolah mati suri, he he. Karena di awal minggu ketiga saya harus pergi kota untuk ke diknas dan tidak masuk satu hari, secara mengejutkan keesokan harinya siswa yang datang hanya 17 orang saja. Pada saat ini tentu saja kembali banyak suara-suara pesimis yang muncul terhadap siswa. Padahal saya sudah menitipkan dengan hati-hati kepada para guru agar menjalankan agenda ramadhan seperti biasa saat saya tidak hadir.

Akhirnya, saya putuskan untuk mengumumkan di masjid desa agar wali murid memberangkatkan anak-anaknya ke sekolah sampai pada waktu libur yang telah ditentukan oleh pemerintah. Karena guru yang saya mintai tolong menolak, maka saya menyampaikan pengumuman sendiri di masjid dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sementara wali murid banyak yang tidak berbahasa Indonesia. Para guru di daerah transmigrasi orang Lombok ini pun kebanyakan orang Dompu. Pengumuman ini kurang efektif. Siswa yang datang akhirnya sekitar 20 orang saja.

Rangkaian kegiatan pesantren kilat ini di tutup dengan lomba semarak ramadhan. Tidak tanggung-tanggung, berkerjasama dengan teman SGI3 yang satu kecamatan, saya membuat lomba satu kecamatan untuk SD/MI. Kegiatan sosialisasi yang dilakukan dirapat para kepala sekolah mendapat sambutan positif. Meskipun dalam kenyataannya, hanya 1/3 sekolah saja yang ikut. Penyebabnya beragam, mulai dari pihak sekolah yang tidak datang sewaktu sosialisasi sampai dengan sekolah-sekolah di daerah transmigrasi orang Bali dimana semua siswanya beragama Hindu. Lomba yang diadakan adalah lomba adzan, da’i cilik, tilawah dan saritilawah. Sumber dana untuk hadiah kami sampaikan dengan jujur berasal dari biaya pendaftaran para peserta, yaitu Rp.10000/mata lomba. Sehingga hadiah yang akan didapat menyesuaikan dengan jumlah peserta lomba.

Alhamdulillah, lomba berjalan cukup meriah, para siswaku dengan setia menjadi tuan rumah dan suporter yang baik bagi teman-temannya yang ikut lomba. Sekolah menjadi sangat ramai dengan gema nasyid yang berkumandang sebelum lomba dimulai. Selama tiga hari, kegiatan ini ditutup dengan ceramah dari seorang ustad sahabat kami di Dompu, yang ikhlas memberikan sumbangsih tanpa di bayar. Atas ridho Allah, hadiah yang diterima para pemenang cukup semarak, yaitu alat tulis lengkap: kotak pensil, buku, pena, pensil, penghapus, penggaris, dan peruncing pensil.

Hikmah terbesar yang saya dapatkan adalah komitmen awal yang menjadi kenyataan. Asal ada kegiatan pasti yang konsisten dijalankan di sekolah, para siswa pasti akan masuk sekolah. Dengan cara yang sangat sederhana, Allah mewujudkan mimpi saya, mendobrak realitas budaya siswa meliburkan diri pada Bulan Ramadhan. Dengan pesantren kilat, terbukti sudah, sekolah kami tidak lagi mati suri.

Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom
Relawan Guru SGI3 Dompet Dhuafa

http://fimadani.com/ramadhan-ini-sekolah-kami-tak-lagi-mati-suri/

Semarang: tambak terancam


Kawasan Tambak Lorok adalah salah satu tempat yang sering tergenang rob

Mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, mengunjungi kawasan pesisir yang sering tergenang air laut dan menilik pengaruhnya terhadap hasil tambak.

Mendengar nama Semarang, mungkin anda ingat bandeng prestonya. Namun puluhan hektar tambak di pesisir Semarang banyak yang rusak karena terjangan intrusi air laut atau yang disebut penduduk setempat sebagai "rob".

Hasil tambak penduduk di pesisir Semarang ini termasuk bandeng, gurame dan udang.

"Dulu banyak tambak di sini, tapi sekarang sudah banyak hilang karena banjir rob. Tambak ini hasilnya macam-macam, ada bandeng, udang.
Dulu banyak tambak di sini, tapi sekarang sudah banyak hilang karena banjir rob

Darmo, nelayan tambak di Semarang



"Ratusan hektar rusak karena rob," kata pak Darmo, nelayan di Tambak Lorok, salah satu kawasan tambak di pesisir Semarang kepada Clara Novita Anggraini dari Universitas Diponegoro.

Intrusi air laut ini, bagi para nelayan berarti bencana, karena penghasilan mereka tersapu banjir.

Masalah klasik

Rob sebenarnya merupakan masalah klasik yang sudah sejak dulu terjadi di Semarang.

Namun pakar lingkungan dari Univesitas Diponegoro, DR Robert Kodoatie mengatakan pemanasan global yang menyebabkan naiknya permukaan air laut akan menyebabkan rob bertambah parah.
Pemanasan global akan mempercepat tenggelamnya Semarang

DR Robert Kodoatie, pakar lingkungan Undip, Semarang



"Tanpa global warning (pemanasan global), permukaan akan turun terus sampai empat meter. Kalau Semarang tenggelam, khususnya daerah rob, perkiraannya, ya.

"Kapan? Dihitung saja, ada kawasan yang turun 10 cm pertahun, jadi untuk 10 tahun ke depan, tinggal dihitung saja.

"Dengan global warming akan tambah parah. Permukaan air laut jadi tambah tinggi, dan mempercepat Semarang tenggelam," kata Robert Kodoatie.

Rob memang bukan hanya merugikan para nelayan.

Rob yang setiap hari bertambah parah ini juga mengakibatkan terganggunya aktivitas masyarakat kota Semarang dan sekitarnya. Salah satunya adalah kemacetan jalur pantai utara Jawa.

Di kawasan yang tergenang ini, selain pasar, ribuan rumah penduduk, juga terdapat sejumlah fasilitas umum lain, seperti sekolah, dan pusat kesehatan masyarakat. Kesehatan penduduk juga terancam.

Tambak rusak

Pemerintah kota harus melakukan penyemprotan rutin, karena genangan air yang terjadi merupakan ancaman dalam bentuk berbagai penyakit, terutama penyakit kulit dan demam berdarah.

Lebih 100 hektar tambak rusak dalam jangka 2006-2007



Ida Purnomowati dari Dinas Kelautan dan Perikanan, DKP, Kota Semarang mengatakan banyak tambak yang rusak di kawasan pesisir Semarang.

"Di daerah kecamatan Tugu saja ada kurang lebih 110 hektar, tambak yang tidak dapat difungsingkan lagi untuk tahun 2006-2007. Ini tentunya memprihatinkan," kata Ida Purnomowati dari Dinas Kelautan dan Perikanan, DKP.

Untuk menangani rob, Ida Purnomowati mengatakan pihaknya melakukan gerakan bersih pantai dan laut. Selain untuk mengatasi dampak rob di pantai, kata Ida, langkah itu juga menangani dampak rob di daratan.

Namun, Robert Kodoatie menilai sampai saat ini belum ada langkah yang jelas untuk menangani rob.
Di kecamatan Tugu saja, 110 hektar tambak tidak dapat difungsikan lagi

Ida Purnomowati, Dinas Kelautan dan Perikanan Semarang



"Persoalan ini kan sudah lama, tetapi belum ada cara yang tepat untuk menanganinya. Masih mempertahankan sistem lama, dengan melakukan drainase ke laut, padahal permukaan air laut sekarang lebih tinggi. Jadi kan sulit," kata Robert.

Di kawasan tambak sendiri, para nelayan banyak yang mencari pekerjaan lain untuk menyambung hidup, karena banjirnya tambak mereka.

"Kalau seperti saya, bisa ngelas atau konstruksi, ya saya kerjakan. Kalau tidak punya ketrampilan, ya jadi tukang batu atau ngenek," kata Doyok, seorang penduduk di Tambak Lorok.

Pemerintah kota sendiri, kata Ida Purnomowati, antara lain mencoba memperkenalkan diversifikasi usaha kepada para nelayan tambak.

"Kami mencoba memperkenalkan budidaya lain ke para nelayan. Kami pernah ajak nelayan tambak untuk melakukan budidaya rumput laut. Ini salah satu alternatif lain, karena rusaknya tambak akibat rob," kata Ida.

Data resmi menunjukkan 70% produksi bandeng bukan lagi dari Semarang.

Akankah Semarang kehilangan bandeng prestonya suatu saat nanti?

Berita ini merupakan salah satu hasil karya salah seorang guru model pada saat masih mahasiswa di link berikut:
http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2007/12/071207_studentssemarang.shtml

Apa kabar ?

                                                                                           Oleh: Dasnah SGI III

Langit mulai gelap, cahaya merah mulai menjalar menutupi putihnya awan. Burung-burung yang beterbangan hendak ke sarangnya. Tak bedanya dengan aktivitas manusia.
Sore menjelang malam itu. Aku yang sedang asyik menikmati pemandangan cakrawala tiba-tiba terhanyut haru, enah mengapa bola mata ini berkaca-kaca dan jantung ini berdebar-debar kencang. Air mata hampir menetes di kedua pipi ini. Tetapi “Naila, waktu maghrib sudah tiba”suara paman mengagetkanku. Kusapu air bening yang hendak menetes itu itu saat paman melangkah ke arah tempat aku sedang duduk. “ya, paman”. Balasku seolah tak terjadi apa-apa denganku.
Perlahan kumeninggalkan tempat duduk itu. Sejuknya air membasahi pipi serasa menembus ke kalbuku. Mata yang berkaca dan debaran jantung yang kencang sudah tak tersisa lagi. Segera kuambil mukenah, sarung, dan sejadah yang terlipat rapi di atas meja mungil dalam kamarku.
Beberapa menit kemudian. Setelah aku selesai menghadap ke sang pencipta dan setelah kulantunkan ayat-ayat suci-Nya. Isak tangis pun tak dapat terbendung lagi, kubiarkan diri ini hanyut dalam lara dan duka.
Beribu tanya dalam benak ini, sesaki pikiranku. Sejenak kurebahkan tubuh yang masih berbalut kain putih ke tempat tidurku. Pikiran ini melayang ke mana-mana. Ayah…,Ibu…, desahku dengan pelan. Air mata yang sudah reda kembali bercucuran, terlintas pikiran yang tidak –tidak dalam benak ini.
“Naila…Naila…. Ada telepon untukmu” teriak bibi yang berada diruang tengah. Suara itupun membayarkan segala pikiranku. Akupun bangun dari bangun dari pembaringan dan segera berlari ke arah bibi yang sedang berdiri di sudut ruang tengah dengan gagang telepon di tangan kanannya.
“Assalamu Alaikum”   
“Waalaikum salam” Jawabnya
“ini siapa ya? “tanyaku padanya
“Tut… tut….tut… “ teleponnya ditutup.
Belum sempat aku mendengar suaranya untuk yang kedua kalinya, teleponnya terputus. Entah disengaja atau tidak.
Penarasanku ? Yah… aku amat penasaran. Dari suaranya sish, kederangan seperti suara laki-laki. Tapi siapa orangnya aku tak tahu. Memoriku tak dapat memprediksinya.
Jadi aku kembali ke kamar dengan rasa penasaran yang kian menjadi-jadi. Tiba-tiba secarik kertas bertuliskan ‘apa kabar?’ tertempel pada dinding kamarku.
Aneh! Tiba-tiba ada bau tak sedap yang aku rasakan. Kucoba mencari sumber bau itu, tetapi tak ada sesuatu yang kotor dalam kamarku. Namun, setelah aku periksa dengan cermat ternyata tinta itu, ya… tinta yang dipakai menulis pada kertas itu, bukanlah tinta biasa. Darah yang bau yang tak sedap itu adalah bau darah.
“Bi….bibi, paman….” Teriakku dengan kencang dan berlari ke luar
“Ada apa? Tanya paman dan bibi padaku yang sedang ngos-ngosan dan pucat.
 “Darah?” tanya mereka dengan nada tak percaya.
Segera kutarik tangan paman dan bibi menuju kamarku. Saat tiba, sesuatu yang aneh terjadi lagi. Kertas itu sudah tidak ada, bekasnya pun tak ada. Aku mencoba menjelaskanku kepada paman dan bibiku kalau aku terlihat, bahkan memegang kertas bertuliskan ‘apa kabar?’ dan tintanya dari darah.
Paman dan bibi akhirnya percaya padaku setelah beberapa kali aku menjelaskan kepada mereka. Meskipun dari raut wajah mereka massih tak menunjukkn kepercayaan pada apa yang aku katakan.
Waktu telah menunjukkan pukul 22.10 WIB, keheningan malam makin mencekam, angin bertiup sangat kencang, pohon-pohon yang ada diluar tampak dari jendela kamarku. Bulu kudukku merinding dan seluruh dan seluruh tubuhku terasa dingin karena cuaca malam itu. Kuarahkan pandangan pada lemari mungil berwarna coklat yang terletak di sudut kamarku, pas dekat jendela. Kuberanikan diri beranjak dari tempat tidurku, saat longlongan anjing makin menjadi, untuk mengambil selimut.
Tak ada sesuatu yang terjadi, kucoba memejamkan mata ini, namun tak bisa. Bayangan surat itu masih menghantui ingatanku. “Tok… tok…tok….” Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarku, debar jantung berdebar dibuatnya. Kucoba untuk tak acuh, tetapi ketukan itu tak jua berhenti.
“Siapa?” teriakku dari dalam kamarku, lama tak ada jawaban. Badan inipun jadi panas dingin dan bermandi keringat. Selimut yang masih kuat membalut dan menutupi seluruh tubuhku tak kubiarkan lepas.
Tetapi…, suara ketukan itu tak juga berhenti. “Nada, Nada…” sampai suara yang kudengar memanggil namaku. Segera kubuka kamarku dan ternyata, itu adalah pamanku.
“Mengapa paman baru bersuara, pamankan dari tadi mengetuk pintu?”
“Dari tadi?”
“Iya, pamankan sudah seperempat jam mengetik pintu?”
“Paman baru saja ada di sini.”
“Jadi yang tadi siapa?”
“Kamu pasti ngaco lagi.”
“Ngaco lagi?”
“Maksud paman kamu pasti salah dengar.”
Paman ternya tak percaya dengan ceritaku tadi tentang kertas berdarah itu dan tentang ceritaku barusan. Sebelum beranjak dari depan kamarku, paman sempat bertanya padaku mengapa aku belum juga tidur. Aku jawab saja kalau aku tidak bisa tidur.
Suasana kamarku kembali hening, suara-suara aneh tak jua berhenti membayangiku. Dari arah jendela kamarku, samar-samar dinding rumah tetangga depan tersorot oleh mataku. Entah mengapa setiap kali memandang ke arah rumah tak berpenghuni itu,  ada hal aneh yang menembus relung hatiku. Rasanya diri ini seolah tertarik untuk memeriksanya. “Apa…kabar?” tiba-tiba suara aneh itu muncul lagi. Dengan gesit aku berlari ke arah pintu kamarku untuk mengambil parang yang telah aku persiapkan sebelumnya. Dering ponselku menambah rasa kagetku, sejenak kulirik nomor yang ada di layar ponselku. Baru…nomor baru. Nomor yang masuk itu tidak aku kenal.
“Ya halo!”
“Apa kabar…?”
Wajah ini menjadi pucat pasi, bibir serasa gemetar, tangan tak kuasa menekan tombol-tombol ponselku dan kaki ini tak kuat untuk melangkah. Suara itu lagi,… Ya suara itu lagi!
            “Kamu siapa?”
            “Apa kabar” lagi-lagi jawabannya membuatku bermandi keringat. Aku berusaha menenangkan pikiranku, membuat suasana hatiku menjadi lebih rileks dengan beristigfar kepada Sang Penguasa. Suara aneh itupun bagaikan Bouraq, dalam sekejap tak terdengar lagi di telinga ini.
            “Astagfiorullah Al-adzim”, Kalimat ini terlantun dari kedua bibirku. Seolah kuasa-Nya memberi mukjizat pada diriku. Akupun tergerak untuk mengambil air wudhu. Beberapa saat kemudian mataku pun terlelap.
            Allahu Akbar…Allahu Akbar…. Suara adzan membangungkanku yang sedang tertidur pulas. Kata hati dan kaki ini tergerak untuk ke rumah-Nya. Akan tetapi, rasa was-was dan takut pasang surut dalam pikiran ini. Kutepis segala rasa yang mengungkungku dalam bui rasa takut ini.
            “Assalamu alaikum.”
            “Waalaikum salam.”
            “Kamu keponakannya Pak Gibran kan?”
            “Iya….”
            “Nama kamu siapa?”
            “Naila”
            Tiba-tiba lelaki tua itu menghilang tanpa jejak ketika aku hendak menanyakan sesuatu kepadanya. Lelaki tua itu kuat juga berjalan, pikirku. Sesaat kemudian bisikan suara seorang lelaki menggema di telinga ini, “Apa… kabar?” Akupun berbalik ke arah suara itu. Bayangan pun tak ada.
            Selesai shalat di mesjid, aku mampir di warung untuk membeli kue. Rupanya lelaki tua yang bertanya padaku tadi subuh adalah pemilik warung kue itu.
            “Non Naila tidak takut ya?”
            “Takut kenapa pak?”
            “Memangnya Non tidak tahu?”
            “Tahu apa Pak?”
            “Dua hari yang lalu ditemukan mayat di rumah kosong depan rumah Non.”
            “Pak antarkan Naila ke sana ya!” Bibir seolah ada yang menggerakkan untuk mengatakannya.
            “Waduh… Bapak takut Non.”
            “Kalau begitu, Naila pergi sendiri deh.”
            “Ya sudah, Bapak temani. Tapi jangan bilang pada paman dan bibi Naila ya.”
            Apa… kabar? Tulisan itu persis tulisan yang ada di kamarku. Tulisan itu tepat berada di lokasi mayat perempuan itu ditemukan. Pak tulisan itu seperti tulisan yang ada di kamar Naila, kataku pada Bapak itu. Tetapi, sedikit pun tak ada jawaban yang aku dengar. Aku berbalik ke arah tempat Bapak itu berdiri, tidak ada seseorang…? Aku berlari meninggalkan lokasi kejadian dan segera kembali ke rumah. Dengan penuh peluh di tubuhku, aku bersandar pada dinding kamarku. Tiba-tiba tubuh ini serasa ada yang menariknya dari luar kamar. Dadaku terasa sesak, dan rasanya jantungku tak kuat lagi untuk berdetak. Aku berusaha untuk melepaskan siksaan itu, tetapi tak bisa. Paman dan Bibiku pun tengah bersimbah darah. Sesosok perempuan tengah berdiri di hadapanku dengan suaranya bak seorang lelaki. Apa kabar…..? Pppaaak…. Suara buku yang terjatuh membuatku beribu kaget. Ternyata aku terbawa oleh mimpi. Ya… mimpi tentang film horror yang kemarin aku tonton. Judul filmnya persis seperti yang ada dalam mimpiku “Apa Kabar?” 


Pernah dimuat di tabloid pelajar: Tabloid Pena Biru Edisi 28 
Niat, Ikhtiar, Do'a 3 pilar sukses

12 Langkah Membentuk Manusia

www.sekolahguruindonesia.net
Judul buku                : 12 Langkah Membentuk Manusia Cerdas
Penulis                      : Rajendra Kartawiria
Penerbit                     : Hikmah
Tebal buku                : 193 halaman


Manusia dianugerahi akal dan pikiran yang mendukung daya analisis dan kesempurnaan komunikasi. Kelebihan manusia ini tidak lain merupakan cerminan peranan dari otak yang ada pada kepala manusia.  

Buku ini mencoba mencari keterkaitan antara peran sentral otak dan kalbu. Kajian dilakukan dengan memadukan ilmu pengetahuan modern tentang otak dan ayat-ayat tentang kalbu dalam Al-Quran. Hal yang menarik dari kajian ini adalah adanya kesepadanan dan keselarasan antara pengetahuan kita tentang otak dan pernyataan Al-Quran tentang kalbu. Upaya untuk mengasah kecerdasan otak, juga akan berdampak pada kecerdasan kalbu. Sebaliknya setiap upaya menyehatkan kalbu juga akan menyehatkan otak. Ayat-ayat yang ada dalam Al-Quran mengalir dari satu bagian otak ke bagian otak lain, membangun komunikasi antar bagian otak, meningkatkan kemampuan analisis secara komprehensif, yang berarti mencerdaskan otak.

Dengan keselarasan ini, otak dan kalbu dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai-nilai kehidupan. Diawali dengan membongkar kebekuan berpikir, kemudian dilanjutkan dengan membangun persepsi, memahami perilaku, menyadari kesederajatan tanggung jawab otak dan kalbu bagi seluruh umat manusia, mengasah otak dan kalbu, dan membangun budaya bersama. Pada akhirnya pendayagunaan otak dan kalbu ini menunjukkan bahwa dalam otak yang cerdas terdapat kalbu yang sehat.

Pendayagunaan otak dan kalbu ini menunjukkan bahwa dalam otak yang cerdas terdapat kalbu yang sehat. Hal ini tentu mendorong untuk selalu bersikap seimbang dalam menyikapi dan mengembangkan fakta-fakta dunia dan panggilan hati nurani.

Begini Seharusnya Menjadi Guru


Resensi 1


Judul buku                : Begini Seharusnya Menjadi Guru
Penulis                      : Fu’ad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub
Penerbit                     : Dar Al-Qasim
Tebal                          : 188 halaman


Profesi mengajar tidak dapat disamai oleh satu profesi lain, pun dalam hal keutamaan dan kedudukan, dan profesi (sebagai) pengajar termasuk semulia-mulia dan seluhur-luhur profesi. Setiap kali materi pengajaran yang diajarkan lebih mulia dan lebih bermanfaat, maka kemuliaan dan kedudukan pemiliknya pun akan semakin terangkat.

Karakter-karakter yang harus dimiliki seorang pengajar antara lain mengikhlaskan ilmu untuk Allah, jujur, serasi antara ucapan dan perbuatan, bersikap adil dan tidak berat sebelah, berakhlak mulia dan terpuji, tawadhu’, pemberani, bercanda bersama anak didiknya, sabar dan menahan emosi, menghindari perkataan keji yang tidak pantas. Acuan dan dasar penulis menetapkan karakter-karakter ini adalah perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW yang terangkum dalam sejumlah hadits-hadits penting dari Al-Mushthafa.

Yang penting yang harus digarisbawahi, salah satu kewajiban asasi seorang pendidik adalah membersihkan nilai-nilai negatif dan virus-virus jahiliyah dari materi yang diajarkannya. Dalam buku inilah disajikan metodologi mendidik yang penuh teladan dan lurus yang diambil dari contoh-contoh sikap dan tindakan Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabat. Karena metode yang baik, bisa jadi lebih berpengaruh daripada kuatnya materi. Buku ini adalah buku yang sangat baik dibaca untuk setiap orang tua dan khususnya para pendidik dan akademisi.

By: Siska Dewi